Perusahaan Algeria Oil Company menghadapi tantangan untuk mempertahankan produksi di tengah penurunan alami produksi minyak. Untuk mengatasi penurunan ini, perusahaan perlu memulai Proyek Phase 5 yang terdiri dari pengeboran 12 sumur baru dan pembangunan fasilitas permukaan. Rencana dan jadwal proyek menunjukkan adanya keterlambatan 12 bulan antara selesainya pengeboran dan tahap put-on-production (POP), yang menimbulkan risiko serta potensi kehilangan peluang (opportunity loss) yang diperkirakan sebesar USD 68,06 juta. Studi ini bertujuan mengidentifikasi akar penyebab keterlambatan tersebut dan mengusulkan solusi yang layak secara teknis dan ekonomis untuk mempercepat jadwal proyek.
Penelitian mixed-methods ini mengidentifikasi akar masalah menggunakan diagram Fishbone dan Cause Reality Tree, yang kemudian distratifikasi berdasarkan risiko nya (RPN) melalui analisis FMEA. Dari analisa menunjukkan risiko tertinggi terletak pada proses pengadaan long lead items (LLI) dimana dalam jalur kritis (CPM) aktivitas ini memiliki keterkaitan menghambat konstruksi fasilitas permukaan. Solusi pemulihan jadwal dipilih melalui metode AHP, lalu divalidasi secara finansial menggunakan model DCF dan analisis sensitivitas tornado chart untuk membandingkan nilai NPV serta IRR terhadap skenario business-as-usual."
Berdasarkan simulasi AHP, strategi fast-tracking dengan in-house engineering dan split purchase order memperoleh skor tertinggi sebesar 0,403. Skor tersebut melampaui skenario business-as-usual (0,327) dan strategi penggunaan kembali material sumur (0,27). Strategi terpilih ini mengubah alur kerja proyek dari sekuensial menjadi paralel, sehingga berhasil memangkas durasi dari 645 hari menjadi 320 hari. Dari aspek ekonomi, strategi ini mampu meningkatkan NPV dari USD 431,29 juta menjadi USD 499,35 juta
Perpustakaan Digital ITB