AZ ZAHRA FARADIKA FILDZAH K
EMBARGO  2029-02-05 
EMBARGO  2029-02-05 
AZ ZAHRA FARADIKA FILDZAH K
EMBARGO  2029-02-05 
EMBARGO  2029-02-05 
AZ ZAHRA FARADIKA FILDZAH K
EMBARGO  2029-02-05 
EMBARGO  2029-02-05 
AZ ZAHRA FARADIKA FILDZAH K
EMBARGO  2029-02-05 
EMBARGO  2029-02-05 
AZ ZAHRA FARADIKA FILDZAH K
EMBARGO  2029-02-05 
EMBARGO  2029-02-05 
AZ ZAHRA FARADIKA FILDZAH K
EMBARGO  2029-02-05 
EMBARGO  2029-02-05 
Ion Cu(II) merupakan polutan yang sering ditemukan dalam limbah industri pelapisan logam, pertambangan, pengolahan logam, dan industri tekstil. Paparan ion Cu(II) dalam jangka panjang dapat menimbulkan risiko kesehatan termasuk gangguan pencernaan, kerusakan hati, hingga kanker paru-paru. Penelitian ini bertujuan untuk membuat adsorben komposit serbuk biji pepaya-alginat-magnetit (BPAM) dan mengkarakterisasi adsorben komposit tersebut. Selain itu, ditentukan pula kondisi optimum dan model kinetika, isoterm, dan termodinamika adsorpsi ion Cu(II) oleh BPAM. Adsorben komposit BPAM telah berhasil disintesis dan dikarakterisasi dengan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), Scanning Electron Microscopy- Energy Dispersive X-Ray Spectroscopy (SEM-EDS), dan X-ray Diffraction (XRD). Variasi komposisi BPAM menghasilkan kapasitas optimum pada perbandingan 3% biji pepaya: 3% alginat: 1% magnetit (w/v). Hasil karakterisasi FTIR, menunjukkan bahwa gugus fungsi O-H dan C=O berperan dalam proses adsorpsi ion Cu(II). Berdasarkan citra SEM, diperoleh informasi adsorben komposit BPAM tidak berbentuk bulat sempurna dan permukaan menjadi lebih rata setelah proses adsorpsi dilakukan. Selain itu, hasil pemetaan EDS menunjukkan keberadaan unsur Cu pada adsorben BPAM setelah adsorpsi. Hasil optimasi adsorpsi mengonfirmasi bahwa kondisi optimum adsorpsi ion Cu(II) oleh adsorben komposit BPAM tercapai pada pH 5, massa adsorben 0,125
g, dan waktu kontak 4 jam dengan kapasitas adsorpsi maksimum (Qmaks) sebesar 42,27 mg/g. Proses adsorpsi
ini mengikuti model kinetika orde satu semu, model isoterm Langmuir, dan bersifat eksotermik. Hasil studi
adsorpsi-desorpsi menunjukkan bahwa adsorben berpotensi untuk digunakan berulang dengan larutan
pendesorpsi paling baik adalah larutan HNO3 0,01 M.
Perpustakaan Digital ITB