digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800


BAB I Erina Wiyono [37022013]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB II Erina Wiyono [37022013]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB III Erina Wiyono [37022013]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB IV Erina Wiyono [37022013]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB V Erina Wiyono [37022013]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB VI Erina Wiyono [37022013]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

Istana Kepresidenan Republik Indonesia-Jakarta merupakan lambang dan perjalanan sejarah Bangsa Indonesia. Bangunan tersebut berada dalam lingkungan yang berlatar belakang tradisi masyarakat dengan keberagaman budaya. Terjalinnya hubungan dengan lingkungan sekitar menjadikan Istana Kepresidenan Republik Indonesia-Jakarta sebagai representasi yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah dan keberagaman. Keberagaman ini dapat menimbulkan sikap etnosentris sehingga menimbulkan konflik dan perpecahan, jika tidak bijak dalam menyikapi dan mengaturnya. Berdasarkan uraian di atas, maka bangunan ini penting dipertahankan dan dipahami sebagai simbol keberagaman dan kebersatuan. Adapun kehadiran simbol dalam bentuk visual ornamen merupakan unsur penting dalam mewakili identitas Bangsa Indonesia dan sebagai identitas nasional di Istana Kepresidenan Republik Indonesia-Jakarta. Secara identitas, keberagaman dan kebersatuan ini dirumuskan melalui tampilan visual ornamen pada bangunan yang berwibawa tersebut, sehingga dapat mewakili identitas Bangsa Indonesia. Pembahasan objek visual ornamen Padma sebagai artefak estetik-simbolik, secara kronologi kesejarahan telah diaplikasikan dalam artefak agama Hindu dan Buddha. Padma dalam bahasa Sansekerta adalah bunga Teratai Merah yang mempunyai filosofi hidup yang baik seperti yang tergambarkan dari cara hidupnya. Pengaruh visual ornamen Hindu dan Buddha Padma pun secara universal sudah diaplikasikan pada bangunan Istana Kepresidenan Republik Indonesia-Jakarta, Bogor dan Cipanas, serta pada bangunan rumah-rumah ibadah pada masa periode Hindu Buddha, Islam, Kolonial, Modern awal hingga masa Kemerdekaan, dan Era Kontemporer di pulau Jawa. Namun demikian, dalam Keputusan Presiden No. 4 Tahun 1993 bunga ini tidak dicantumkan. Ketidakhadirannya mencerminkan bagaimana simbol lokal yang sarat makna sering terpinggirkan dalam konstruksi identitas nasional yang bersifat administratif. Disamping itu, masyarakat kebanyakan belum mengetahui ornamen Padma yang dihadirkan dan tidak dapat mengenalinya secara terperinci. Sehingga terdapat gap atau permasalahan antara ornamen Padma yang dimunculkan secara estetik-simbolik dengan pemahaman pengetahuan masyarakat. Tujuan penelitian ini antara lain: (1) Merumuskan proses adaptasi visual ornamen Padma pada bangunan di Istana Kepresidenan Republik Indonesia-Jakarta sejak masa periode Kolonial sampai masa kepemimpinan Joko Widodo, yang didasari pada penggunaan ornamen Padma yang secara universal sudah diaplikasikan di bangunan rumah-rumah ibadah pada masa periode Hindu-Buddha, Islam, Kolonial, Modern awal hingga masa Kemerdekaan, dan Era Kontemporer di pulau Jawa; dan (2) Merumusan elemen bentuk, fungsi, dan makna ornamen Padma yang diterapkan pada bangunan Istana Kepresidenan Republik Indonesia-Jakarta sejak masa periode Kolonial sampai abad ke-21 masa kepemimpinan Joko Widodo sehubungan dengan budaya dan nasionalisme sebagai identitas. Penelitian bersifat kualitatif dengan pendekatan interpretivisme dan menggunakan studi kasus pada lingkungan Istana Kepresidenan Republik Indonesia, Jakarta. Analisis dilakukan melalui strategi cross-sectional dan bersifat induktif, memadukan observasi visual, dokumentasi arsitektural, serta penafsiran simbolik dan adaptasi visual. Proses analisis diperkuat oleh teori morfologi estetik Thomas Munro untuk membaca keterpaduan bentuk dan fungsi, serta konsep simbolik Jakob Sumardjo untuk menafsir nilai budaya dalam ornamen Padma. Temuan penelitian menegaskan Padma sebagai medium rekonstruksi identitas visual kenegaraan melalui adaptasi estetis dan simbolik. Penelitian menghasilkan metode pembacaan simbolik-morfologis sebagai kontribusi metodologis untuk membaca ornamen dalam konteks kekuasaan. Selain mengungkap negosiasi simbolik antara budaya lokal dan representasi nasional, penelitian menunjukkan bahwa ornamen Padma berfungsi sebagai wacana politik budaya yang membentuk narasi visual negara.