digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Covid-19 memaksa pemerintah harus membatasi pergerakan tatap muka masyarakat agar tidak berpotensi terkena penyakit. Pembatasan mobilisasi ini membuat setiap industri harus beradaptasi agar tetap dapat bertahan di tengah kondisi yang tidak menentu. Tepatnya pada tahun 2020, BCA melakukan akuisisi terhadap Bank Royal yang kemudian diubah nama menjadi PT Bank Digital BCA. Setahun setelah akuisisi BCA meluncurkan blu sebagai bank digital untuk masuk ke pasar anak muda. Setelah satu tahun blu berada ditengah masyarakat, kesadaran merek atas blu masih tergolong rendah. Jika dibandingkan dengan kompetitor sejenis seperti Jago, Neobank, dan Allobank, blu dilihat menjadi merek yang tanggung di tengah banyaknya merek bank digital yang masuk ke Indonesia. Kesadaran yang rendah tentu akan berimplikasi pada laba yang rendah, sedikitnya orang yang membuka rekening, dan kerancuan membedakan antara blu dan BCA. Berdasarkan hasil survey disimpulkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang merek blu maka penulis menyarankan melakukan kampanye yang terbagi menjadi empat bagian dalam setahun yaitu bluVirtualCard, bluvestment x Welma, bluMasterCard, bluConcert, blucommerce day. Pada Studi ini akan membantu blu mengidentifikasi rendahnya kesadaran merek dan rendahnya pengguna blu, serta mengembangkan posisi merek blu agar dapat bersaing di dalam kompetisi bank digital di Indonesia.