digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pembangunan Pelabuhan Patimban, Jawa Barat dan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Jati-B Jepara, Jawa Tengah tidak lepas dari kegiatan pengerukan. Volume keruk yang hasilkan dari kegiatan pembangunan fase 1 dan 2 pada area kolam putar, alur pelayaran serta area penimbunan Pelabuhan Patimban mencapai > 10 juta m3, sedangkan dalam kegiatan pengembangan PLTU Tanjung Jati-B menghasilkan volume keruk > 800 ribu m3. TSS yang dihasilkan oleh kegiatan pengerukan dapat mempengaruhi kondisi kualitas air di perairan sekitar. Hal tersebut dapat menurunkan produktivitas pesisir yang akan berdampak pada sosial ekonomi pesisir. Sebagai salah satu upaya dalam pemantauan TSS yang hasilkan pada kegiatan pengerukan di Pelabuhan Patimban dan PLTU Tanjung Jati-B, dalam penelitian ini dilakukan suatu pemodelan hidrodinamika menggunakan perangkat lunak Delft3D berdasarkan analisis data arus dan deteksi sebaran TSS dengan menggunakan citra Sentinel-2 secara temporal dengan membandingkan kondisi perairan sebelum dan saat adanya kegiatan pengerukan. Perhitungan nilai error yang dilakukan menunjukkan bahwa algoritma Liu paling baik dalam estimasi nilai konsentrasi TSS di kedua wilayah penelitian. Hasilnya didapat nilai Mean Absolute Error (MAE) 3.732 dan nilai Root Mean Squared Error (RMSE) 3.987 serta koefisien determinasi R2 0.975 untuk Pelabuhan Patimban dan untuk PLTU Tanjung Jati-B memiliki nilai MAE 10.544 dan nilai RMSE 11.404 serta koefisien determinasi R2 0.853. Dari hasil model TSS yang didapat setiap bulannya, terjadi peningkatan konsentrasi TSS > 200 mg/L di Pelabuhan Patimban dan peningkatan konsentrasi TSS > 100 mg/L di PLTU Tanjung Jati-B akibat adanya kegiatan pengerukan. Arus di wilayah Pelabuhan Patimban khususnya dekat kegiatan pengerukan cenderung memiliki kecepatan arus rata-rata yang kecil (0.014 m/s – 0.033 m/s). Berbeda dengan arus di daerah sekitarnya, seperti di daerah dekat pantai yang berkisar 0.015 m/s – 0.052 m/s, dan di daerah lepas pantai yang berkisar 0.025 m/s – 0.086 m/s. Hal ini dikarenakan pada area pengerukan tepat di tengah teluk sehingga arus yang bergerak menuju teluk tersebar dengan baik ke berbagai arah. Pola arah arus cenderung berubah berdasarkan perubahan musim tahunan yang terjadi pada setiap bulannya. Sedangkan untuk arus di wilayah PLTU Tanjung Jati-B khususnya dekat kegiatan pengerukan cenderung memiliki kecepatan arus rata-rata yang besar berkisar 0.362 m/s – 0.408 m/s dari pada sekitarnya, seperti dekat pantai rata-rata berkisar 0.124 m/s – 0.141 m/s, dan area pengerukan jetty sandar rata-rata berkisar 0.282 m/s – 0.321 m/s. Pola arah arus cenderung tidak berubah setiap bulannya sepanjang tahun, perubahan arah terjadi karena pengaruh pasang surut bulanan (purnama dan perbani). Berdasarkan hasil variasi rata-rata konsentrasi TSS dan kecepatan arus secara bulanan didapat hubungan yang berbanding terbalik antara pertambahan konsentrasi TSS dan kecepatan arus baik pada kondisi sebelum dan saat ada kegiatan pengerukan pada kedua wilayah penelitian. Hal ini disebabkan karena TSS dapat terdeteksi dengan baik oleh citra satelit saat kondisi perairan tenang karena minimnya proses transpor sedimen oleh arus sehingga TSS tersuspensi di permukaan air dengan baik. Sedangkan dari hasil variasi rata-rata konsentrasi TSS secara tahunan memiliki konsentrasi yang relatif konstan, baik pada kondisi sebelum dan saat pengerukan, 38.3 mg/L dan 36.2 mg/L untuk wilayah Pelabuhan Patimban 30.2 mg/L dan 27.4 mg/L untuk wilayah PLTU Tanjung Jati-B. Hasil tersebut membuktikan bahwa adanya kegiatan pengerukan di wilayah Pelabuhan Patimban dan PLTU Tanjung Jati-B memiliki pengaruh yang kecil terhadap perubahan rata-rata konsentrasi TSS tahunan. Pengaruh TSS yang dihasilkan dari kegiatan pengerukan juga tidak secara kontinu setiap waktu namun secara terjadwal.