ABSTRAK Anggi Pratama
PUBLIC Alice Diniarti COVER Anggi Pratama
PUBLIC Alice Diniarti BAB 1 Anggi Pratama
PUBLIC Alice Diniarti BAB 2 Anggi Pratama
PUBLIC Alice Diniarti BAB 3 Anggi Pratama
PUBLIC Alice Diniarti BAB 4 Anggi Pratama
PUBLIC Alice Diniarti BAB 5 Anggi Pratama
PUBLIC Alice Diniarti PUSTAKA Anggi Pratama
PUBLIC Alice Diniarti
Laba-laba memiliki peran penting dalam ekosistem sebagai agen biokontrol. Kelestarian laba-laba
terancam oleh degradasi habitat dan hilangnya vegetasi. Tumbuhan merupakan tempat bersarang,
berlindung dan berburu bagi banyak spesies laba-laba. Studi keragaman dan selektivitas laba-laba
pada tumbuhan di daerah konservasi tumbuhan dibutuhkan untuk mengetahui potensi daerah
konservasi tumbuhan sebagai habitat dan daerah perlindungan bagi laba-laba. Penelitian ini
bertujuan untuk mengkaji keragaman spesies laba-laba yang hidup di Kebun Raya Baturraden (KR
Baturraden) dan Taman Hutan Raya Djuanda (Tahura Djuanda) dan mempelajari selektivitas labalaba
pada tumbuhan. KR Baturraden dan Tahura Djuanda dipilih sebagai lokasi penelitian karena
memiliki keragaman tumbuhan yang relatif tinggi pada area yang terbatas. Penelitian dilakukan
pada bulan Maret dan Juli 2019. Metode yang digunakan adalah survey dengan mengoleksi data
kehadiran laba-laba, tumbuhan tempat ditemukannya laba-laba dan parameter lingkungan berupa
suhu, kelembaban, ketinggian lokasi dan curah hujan. Penelitian dilakukan di 10 lokasi. Sebanyak
tujuh sampling site dipilih di KR Baturraden dan tiga sampling site di Tahura Djuanda. Enam
sampling site di KR Baturraden berada di taman tematik, secara berurutan sampling site 1-6 yaitu
Taman Jambu (Myrtaceae), Taman Duku-dukuan (Meliaceae), Taman Medang-medangan
(Lauraceae), Taman Liana (tumbuhan merambat), Taman Display 1 (tumbuhan hias), dan Taman
Display 2 (tumbuhan hias). Satu sampling site (site 7) berada di area Hutan Produksi
(Araucariaceae) Baturraden. Di Tahura Djuanda, dua sampling site berada di area tumbuhan
koleksi (site 8 dan 9) dan satu sampling site berada di area hutan alam sekunder (site 10). Satu
sampling plot berukuran 20 x 20 m dibuat pada setiap sampling site. Sampling dilakukan dua kali
pada bulan Maret dan dua kali pada Juli 2019. Waktu sampling adalah pukul 08.00-15.00 wib.
Sampling dilakukan menggunakan teknik tangkap langsung dengan tangan dan jaring serangga,
serta 5 pitfall trap pada setiap plot. Jaring serangga berukuran mesh 50 yang berbentuk kerucut
berdiameter 30 cm disertai tongkat yang panjangnya 85 cm. Pitfall trap terbuat dari gelas plastik
(diameter 9 cm, tinggi 15 cm) berisi detergen 5%, dipasang 24 jam. Setiap laba-laba yang
ditemukan pada tumbuhan dan sudah dikenali jenisnya dicatat, laba-laba dengan morfotipe
berbeda difoto. Spesimen yang belum dikenali dikoleksi dan disimpan dalam larutan alkohol 70%
untuk keperluan identifikasi. Sampel laba-laba diidentifikasi hingga tingkat morphospecies
menggunakan acuan World Spider Catalog 2020. Spesimen laba-laba disimpan di Museum
Zoologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB. Tumbuhan tempat ditemukannya laba-laba
diidentifikasi menggunakan kunci identifikasi Flora of Java dan diverifikasi di pusat koleksi
tumbuhan KR Baturraden dan Tahura Djuanda. Suhu dan kelembaban udara diukur menggunakan
HTC Thermohygrometer. Ketinggian lokasi sampling diukur dengan altimeter digital. Kemudian
curah hujan pada Maret dan Juli 2019 didapatkan dari BMKG. Hasil penelitian di KR Baturraden,
suhu selama penelitian berkisar 23-27,1°C dan di Tahura Djuanda berkisar 25,3-27,2°C,
kelembaban udara di kedua lokasi berkisar 82-94%. Kedua lokasi lebih basah pada Maret
dibandingkan Juli. Curah Hujan hujan pada Maret adalah 223 mm di Tahura Djuanda dan 496 mm
di KR Baturraden, sedangkan pada Juli adalah 22 mm di Tahura Djuanda dan 30 mm di KR
Baturraden. Berdasarkan hasil pengamatan, 221 individu dari 48 spesies laba-laba ditemukan pada
10 spesies tumbuhan di Tahura Djuanda, serta 1048 individu dari 81 spesies laba-laba ditemukan
pada 68 spesies tumbuhan di KR Baturraden. KR Baturraden dan Tahura Djuanda memiliki
keragaman dan kekayaan spesies laba laba yang relatif tinggi akan tetapi kemerataan spesiesnya
relatif rendah. Orb weaver merupakan kelompok yang dominan di KR Baturraden dan Tahura
Djuanda, sebab kelompok ini dapat memanfaatkan semua bentuk hidup (habitus) tumbuhan.
Intensitas hujan mempengaruhi perilaku orb weaver dimana saat curah hujan tinggi kelompok
tersebut akan menggunakan lebih banyak jenis tumbuhan sebagai tempat bersarang. Lokasi dengan
spesies dan habitus tumbuhan yang kompleks memiliki kekayaan spesies laba-laba yang tinggi.
Famili tumbuhan tempat ditemukannya paling banyak jenis laba-laba di KR Baturraden dan
Tahura Djuanda adalah Cyperaceae, sedangkan habitus tumbuhan paling banyak ditemukan jenis
laba-laba adalah herba dan pohon.