digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Arienta Niadisya
PUBLIC Yoninur Almira

Wisata budaya merupakan suatu bentuk wisata yang menjadikan kebudayaan sebagai objek wisatanya. Kementrian Pariwisata menyebutkan bahwa 60 persen wisatawan mancanegara datang ke Indonesia untuk melakukan kegiatan wisata budaya, keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia menjadikan Indonesia memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan wisata budaya. Kebudayaan diartikan sebagai identitas dan segala sesuatu yang ada pada suatu kelompok masyarakat seperti nilainilai dan norma, aktifitas dan perilaku, serta hasil karya (Keontjaraningrat, 1993). Kebudayaan lahir dari proses interaksi antar manusia dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan disekitarnya. Namum, pengembangan pariwisata budaya dikhawatirkan dapat memberikan dampak negatif terhadap nilai-nilai budaya asli yang dipegang oleh masyarakat lokal. Maka dari itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana pariwisata mempengaruhi nilai budaya serta bagaimana cara untuk mempertahankan nilai-nilai budaya asli. Penelitian ini dilakukan di Kampung Naga karena Kampung Naga merupakan salah satu destinasi wisata desa adat yang hingga kini masih mampu mempertahankan nilai-nilai budayanya. Penelitian yang dilakukan berupa penelitian kualitatif dengan metode pencarian data berupa observasi partisipan untuk memperoleh data mengenai unsur budaya fisik seperti kesenian, teknologi, dan interaksi masyarakat, serta wawancara mendalam untuk mengetahui proses perubahan budaya serta strategi dalam mempertahankan budaya dan kemudian data yang diperoleh dianalisis dengan metode analisis deskriptif kualitatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa pariwisata menjadi salah satu faktor pada perubahan unsur-unsur budaya, selain itu terdapat pula faktor yang disebabkan dari dalam kelompok masyarakat Kampung Naga itu sendiri. Sementara itu, masyarakat Kampung Naga mempertahankan nilai budaya mereka dengan cara tiga bentuk strategi yaitu strategi konsiliatif, korosif dan indoktrinatif. Ketiga strategi tersebut digunakan karena sesuai dengan nilai-nilai budaya yang mereka pegang.