Bab 5 membahas analisis data dan hasil penelitian terkait proyeksi perubahan tutupan lahan, bangkitan dan tarikan perjalanan, distribusi perjalanan, pemilihan moda, serta kinerja ruas jalan di Kecamatan Gedebage hingga tahun 2045.
**1. Proyeksi Perubahan Tutupan Lahan dan Reklasifikasi Guna Lahan (5.1)**
* **Dinamika Perubahan Tutupan Lahan (2017-2025):** Kecamatan Gedebage mengalami urbanisasi intensif, ditandai dengan peningkatan luas lahan terbangun (dari 47,02% menjadi 64,59%) dan penurunan drastis lahan sawah/pertanian (dari 38,39% menjadi 19,46%). Konversi sawah menjadi lahan terbangun adalah perubahan paling menonjol.
* **Pemodelan dan Proyeksi Tutupan Lahan (hingga 2045):** Menggunakan pendekatan Cellular Automata-Artificial Neural Network (CA-ANN), model diproyeksikan hingga tahun 2045. Hasil proyeksi menunjukkan perluasan lahan terbangun akan terus mendominasi (dari 631,71 ha pada 2025 menjadi 751,19 ha pada 2045), terutama dari konversi semak belukar, sawah, dan tanaman campuran.
* **Reklasifikasi Tutupan Lahan menjadi Guna Lahan (2045):** Proyeksi tutupan lahan direklasifikasi menjadi guna lahan fungsional menggunakan metode *post-classification enhancement* (PCE) dengan mengacu pada Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Bandung 2024-2044. Hasilnya, guna lahan tahun 2045 akan didominasi oleh fungsi perkotaan (sekitar 71,64% wilayah), dengan perumahan (29,12%) dan perdagangan/jasa/perkantoran (23,12%) sebagai yang terbesar.
**2. Proyeksi Bangkitan dan Tarikan Perjalanan (5.2)**
* **Pemodelan Tahun Dasar (2025):** Bangkitan dan tarikan perjalanan diestimasi berdasarkan jumlah penduduk dan luas guna lahan pada 24 Zona Analisis Transportasi (TAZ). Bangkitan perjalanan mencapai 42.853 perjalanan orang/hari, dan tarikan mencapai 28.699 perjalanan orang/hari.
* **Proyeksi Tahun 2045:** Jumlah penduduk diproyeksikan meningkat 57,02% (dari 45.363 jiwa menjadi 71.230 jiwa). Luas fungsi penarik perjalanan (perdagangan/jasa/perkantoran, industri, SPU) juga meningkat signifikan. Akibatnya, bangkitan perjalanan meningkat menjadi 67.289 perjalanan orang/hari (+57,02%) dan tarikan perjalanan menjadi 47.262 perjalanan orang/hari (+64,68%). Pola spasial bangkitan dan tarikan berubah, dengan beberapa TAZ menguat sebagai pusat bangkitan atau tarikan.
* **Evaluasi Asumsi dan Sensitivitas:** Analisis sensitivitas terhadap koefisien bangkitan dan tarikan menunjukkan bahwa pertumbuhan perjalanan secara keseluruhan tetap terjadi, meskipun besaran dan kontribusi masing-masing fungsi dapat bervariasi tergantung asumsi parameter.
**3. Pemodelan Distribusi Perjalanan dan Pola Pergerakan (5.3)**
* **Tahun Dasar (2025):** Distribusi perjalanan internal (dalam Gedebage) dan eksternal (menghubungkan Gedebage dengan wilayah luar) dimodelkan menggunakan XGBoost dan IPFFurness. Gedebage berperan sebagai asal perjalanan yang kuat ke wilayah eksternal (terutama Bojongloa Kidul) dan tujuan dari wilayah eksternal (terutama Antapani). Interaksi internal menunjukkan beberapa TAZ dominan sebagai asal dan tujuan.
* **Proyeksi Tahun 2045:** Total perjalanan internal meningkat 57,02%. Pola distribusi perjalanan menjadi lebih tersebar (kurang terkonsentrasi pada beberapa pasangan OD) dan rata-rata jarak perjalanan internal sedikit menurun. Interaksi eksternal juga meningkat, mempertahankan pola asimetris antara arah keluar dan masuk. Perubahan guna lahan pada TAZ mempengaruhi peran mereka sebagai asal atau tujuan perjalanan.
**4. Pemilihan Moda dan Pembebanan Lalu Lintas (5.4)**
* **Komposisi dan Pemilihan Moda:** Pada tahun 2025, kendaraan pribadi mendominasi (64%) mode perjalanan. Model pemilihan moda XGBoost menunjukkan kepemilikan SIM dan jarak perjalanan sebagai faktor paling berpengaruh. Untuk 2045, komposisi moda diasumsikan tetap sebagai skenario dasar, sehingga peningkatan perjalanan orang (+60,88%) juga tercermin dalam peningkatan jumlah perjalanan per moda.
* **Pembebanan Lalu Lintas dan Kinerja Ruas Jalan:** Jumlah perjalanan kendaraan individual bermotor meningkat dari 27.041 kendaraan/hari (2025) menjadi 43.503 kendaraan/hari (2045). Pembebanan lalu lintas (menggunakan *all-or-nothing assignment*) menunjukkan peningkatan beban pada sebagian besar jaringan jalan, baik koridor utama (misalnya, Soekarno-Hatta dan Gedebage Selatan) maupun jaringan internal.
* **Evaluasi Kinerja Ruas Jalan:** Pada kondisi eksisting (2026), lima dari delapan ruas jalan yang dievaluasi sudah berada pada Tingkat Pelayanan (LOS) F (jenuh). Dengan pertumbuhan lalu lintas hingga 2045 (skenario tanpa peningkatan kapasitas), seluruh delapan ruas tersebut diproyeksikan akan mencapai LOS F, dengan defisit kapasitas yang signifikan.
**Kesimpulan Bab 5:**
Pertumbuhan penduduk dan perubahan guna lahan di Kecamatan Gedebage hingga tahun 2045 akan secara signifikan meningkatkan bangkitan dan tarikan perjalanan, mengubah pola distribusi pergerakan, dan pada akhirnya memperparah tekanan pada jaringan jalan. Tanpa peningkatan kapasitas infrastruktur atau pengelolaan permintaan perjalanan yang efektif, seluruh ruas jalan utama di Gedebage diproyeksikan akan mengalami kondisi jenuh (LOS F) pada tahun 2045.