Bab 4 menyajikan gambaran umum Kecamatan Gedebage, mencakup profil administratif, geografis, sosiodemografi, tutupan dan guna lahan, transportasi, konteks kebijakan tata ruang, serta karakteristik responden penelitian.
Secara **administratif dan geografis**, Gedebage terletak di bagian timur Kota Bandung, berbatasan langsung dengan Kabupaten Bandung, menjadikannya kawasan transisi yang strategis dengan aksesibilitas penting (jalan arteri, tol, kereta api, kereta cepat). RTRW Kota Bandung menetapkannya sebagai Pusat Pelayanan Kota (PPK) dan Kawasan Strategis Kota (KSK) untuk Bandung Timur. Wilayah ini terbagi menjadi empat kelurahan dan untuk analisis transportasi, digunakan 24 unit analisis grid heksagonal (TAZ) dengan alokasi data penduduk berdasarkan proporsi area perumahan. Kondisi fisik dasar Gedebage didominasi oleh topografi datar (75,86%), mendukung pengembangan kawasan, dengan jaringan sungai yang juga diperhitungkan dalam analisis perubahan tutupan lahan.
**Karakteristik sosiodemografi** menunjukkan peningkatan jumlah penduduk dari 35.910 jiwa (2015) menjadi 45.363 jiwa (2025), diproyeksikan mencapai 71.230 jiwa pada 2045. Kelurahan Cisaranten Kidul memiliki penduduk terbanyak dan kepadatan tertinggi. Pola ini mengindikasikan potensi bangkitan perjalanan yang tidak merata.
**Tutupan dan guna lahan eksisting** tahun 2025 didominasi oleh lahan terbangun (64,59%), namun masih memiliki proporsi sawah/pertanian dan vegetasi yang signifikan. Penggunaan lahan terbesar adalah RTH/vegetasi (26,51%), diikuti perumahan (24,09%), pertanian (16,83%), dan perdagangan/jasa perkantoran (11,80%). Pusat aktivitas seperti Masjid Raya Al-Jabbar, Stadion GBLA, dan Summarecon Mall Bandung tersebar mengikuti kawasan berkembang, membentuk pola tarikan perjalanan yang beragam, didominasi oleh kegiatan perdagangan dan jasa.
**Karakteristik transportasi** Gedebage diperkuat oleh jaringan jalan (tol, arteri, kolektor, lokal) dan kereta api, serta simpul transportasi seperti stasiun KA (Gedebage, Cimekar), terminal Tipe C (Gedebage, Riung), dan stasiun kereta cepat Tegalluar (eksternal). Berbagai layanan angkutan umum (Trans Metro Bandung, angkot, AKDP, KA lokal, kereta cepat) meningkatkan konektivitas internal dan regional.
Dalam **konteks kebijakan tata ruang**, RDTR Kota Bandung 2024-2044 menetapkan Gedebage sebagai simpul transportasi regional, pusat perdagangan/jasa, dan pusat pelayanan kota. Arahan pola ruang didominasi oleh zona perumahan (33,80%) dan perdagangan/jasa (28,72%), dengan alokasi RTH yang signifikan. Rencana struktur ruang juga mengarahkan penguatan jaringan jalan dan kereta api, serta pengembangan simpul transportasi baru (misal: LRT, terminal tipe A). Penting dicatat bahwa kebijakan tata ruang ini digunakan sebagai acuan reklasifikasi guna lahan, dan skenario pengembangan transportasi baru belum sepenuhnya dimodelkan sebagai intervensi dalam penelitian. Analisis angkutan barang juga belum dicakup secara tersendiri.
Terakhir, **karakteristik 275 responden penelitian** (dari penjaringan komuter dan wisatawan) menunjukkan komposisi yang seimbang antara jenis kelamin, didominasi usia produktif, mayoritas karyawan/mahasiswa, berpendidikan SMA/sarjana, dengan penghasilan menengah. Kepemilikan sepeda motor sangat tinggi (88,73%). Perjalanan responden didominasi kendaraan pribadi (64%) untuk maksud rekreasi (72%), dengan asal perjalanan beragam namun tujuan utama ke Kota Bandung. Matriks Asal Tujuan (MAT) Jawa Barat 2024 juga mengkonfirmasi interaksi perjalanan Gedebage dengan wilayah yang lebih luas di Bandung Raya dan sekitarnya, dengan bangkitan dan tarikan perjalanan yang signifikan.