Berikut adalah ringkasan tesis "Analisis Dampak Lingkungan Instalasi Pengolahan Air Limbah Berbasis Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR) di Jakarta Menggunakan Metode Life Cycle Assessment (LCA)" oleh Putri Fatimah Azzahra:
**Judul Tesis:** Analisis Dampak Lingkungan Instalasi Pengolahan Air Limbah Berbasis Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR) di Jakarta Menggunakan Metode Life Cycle Assessment (LCA)
**Penulis:** Putri Fatimah Azzahra (NIM 15322036)
**Institusi:** Institut Teknologi Bandung
**Tahun:** 2026
**Latar Belakang & Tujuan:**
Tesis ini menganalisis dampak lingkungan dari instalasi pengolahan air limbah (IPAL) berbasis Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR) di Jakarta, yang dikenal efisien namun berpotensi menimbulkan beban lingkungan signifikan, khususnya terkait aerasi intensif. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi kontribusi dan *hotspot* dampak lingkungan (Global Warming Potential/GWP, Acidification Potential/AP, dan Eutrophication Potential/EP) pada setiap unit proses IPAL MBBR, menganalisis faktor-faktor penyebabnya, mengevaluasi hubungan antara efisiensi pengolahan dan dampak, serta merumuskan rekomendasi perbaikan.
**Metodologi:**
Penelitian ini menggunakan metode Life Cycle Assessment (LCA) dengan pendekatan *gate-to-gate*, berfokus pada tahapan operasional IPAL X di Jakarta Selatan selama periode Oktober-Desember 2025. Unit fungsional yang digunakan adalah 1 m³ air limbah terolah. Metode karakterisasi dampak yang dipakai adalah CML Baseline 2001 untuk mengkuantifikasi GWP, AP, dan EP. Data primer diperoleh dari uji laboratorium (BOD, COD, amonia, fosfor, dll.), observasi, dan wawancara, sedangkan data sekunder mencakup konsumsi energi listrik dan bahan kimia.
**Temuan Utama:**
1. **Dampak Lingkungan Keseluruhan:**
* **GWP:** 1,4091 kg CO2eq/m³ air limbah terolah.
* **AP:** 0,0303 kg SO2eq/m³ air limbah terolah.
* **EP:** 0,024 kg PO4eq/m³ air limbah terolah.
2. **Identifikasi Hotspot Dampak:**
* **GWP Hotspot:** Unit MBBR BOD/COD menyumbang 61,65% dari total GWP. Hal ini disebabkan oleh konsumsi energi listrik blower aerasi yang sangat tinggi (61,8% dari total konsumsi listrik IPAL). Total GWP didominasi oleh emisi CO2 dari konsumsi listrik (89,5%).
* **AP Hotspot:** Unit MBBR BOD/COD juga menjadi hotspot utama dengan kontribusi 49% dari total AP. Dampak AP didominasi oleh emisi amonia (NH3) dalam efluen (68,8%) dan emisi SOx/NOx dari listrik (30,7%).
* **EP Hotspot:** Unit MBBR Amonia menjadi hotspot dominan untuk EP (42,16%). Namun, penyebabnya bukan sisa nutrien di efluen akhir, melainkan pelepasan fosfor intraseluler akibat lisis sel bakteri nitrifikasi yang mengalami tekanan metabolik, ditandai dengan lonjakan total fosfor (TP) hingga 13,2 kali lipat pada unit ini. Efluen akhir IPAL tetap memenuhi baku mutu EP karena proses koagulasi di unit High Rate Clarifier (HRC).
3. **Hubungan Efisiensi Pengolahan dan Dampak:**
* IPAL X mencapai efisiensi penyisihan tinggi (BOD 91%, amonia 93,2%, TSS 85,7%) yang memenuhi baku mutu. Namun, efisiensi ini dicapai melalui aerasi intensif yang meningkatkan konsumsi listrik dan berkorelasi positif dengan peningkatan GWP (72,5 kg CO2eq per kg BOD tersisih). Terdapat *trade-off* antara efisiensi pengolahan dan dampak GWP.
* Untuk EP, peningkatan efisiensi nitrifikasi justru memperburuk EP di unit MBBR Amonia karena fenomena pelepasan fosfor.
4. **Prioritas Dampak:**
* Dari perspektif global (normalisasi CML Baseline 2001), GWP memiliki kontribusi relatif tertinggi.
* Dari perspektif lokal (Jakarta Selatan), EP menjadi prioritas utama karena pelepasan nutrien langsung ke badan air penerima memiliki dampak langsung dan terukur.
**Rekomendasi Perbaikan:**
1. **Instalasi Panel Surya Fotovoltaik (PLTS):** Substitusi 30% konsumsi listrik IPAL (1.017 kWp) berpotensi menurunkan GWP sebesar 26,9% dan AP sebesar 9,22%.
2. **Penerapan Variable Frequency Drive (VFD):** Pada blower MBBR untuk menghemat energi 25%, berpotensi menurunkan GWP sebesar 14% dan AP sebesar 4,8%.
3. **Peningkatan Dosis PAC:** Peningkatan dosis Poly Aluminium Chloride (PAC) sebesar 30% (dari 50 menjadi 65 kg/hari) pada unit HRC dapat menurunkan EP sebesar 3,89% melalui peningkatan penyisihan fosfor.
**Kesimpulan & Saran:**
Konsumsi energi listrik merupakan kontributor dominan GWP dan AP, sementara pelepasan fosfor intraseluler di unit MBBR Amonia adalah penyebab utama EP. Solusi mitigasi lingkungan memerlukan pendekatan berlapis: optimasi energi (PLTS dan VFD) untuk GWP dan AP, serta optimasi dosis PAC dan investigasi lebih lanjut terhadap mekanisme pelepasan fosfor untuk EP. Analisis sensitivitas juga menunjukkan bahwa dekarbonisasi jaringan listrik PLN dalam jangka panjang memiliki potensi terbesar untuk mengurangi GWP (hingga 79,6%).
**Keterbatasan Penelitian:**
Data operasional terbatas pada 3 bulan, penggunaan faktor emisi umum (IPCC Tier 1) dan faktor emisi listrik 2018 (belum spesifik Indonesia terkini), batasan sistem *gate-to-gate* (tidak termasuk konstruksi, produksi bahan kimia, dan pengelolaan lumpur), serta interpretasi pelepasan fosfor intraseluler yang memerlukan verifikasi langsung.