Penelitian tesis oleh Wildan Malik Fajar (ITB 2026) ini menganalisis masalah pipa terjepit (stuck pipe) yang terjadi pada sumur eksplorasi berarah Well A di Indonesia, khususnya pada bagian lubang bor berdiameter 12¼ inci. Analisis hidrolika dan evaluasi operasi pengeboran menunjukkan bahwa insiden tersebut disebabkan oleh *packoff* akibat pembersihan lubang bor yang tidak memadai.
Penyebab utamanya meliputi:
1. **Berat Lumpur di Bawah Tekanan Pori:** Berat lumpur yang digunakan secara konsisten berada di bawah tekanan pori formasi, menyebabkan runtuhnya lubang bor (borehole collapse).
2. **Washout Parah:** Runtuhnya lubang bor ini menghasilkan *washout* parah hingga diameter 21 inci di beberapa interval.
3. **Kecepatan Anulus Rendah:** Perluasan lubang bor akibat *washout* menurunkan kecepatan anulus (annular velocity) secara signifikan hingga di bawah 60 ft/min, jauh di bawah kecepatan kritis (180-240 ft/min) yang diperlukan untuk mengangkat serpihan pengeboran. Hal ini menyebabkan terbentuknya lapisan serpihan pengeboran stasioner (*stationary cutting bed*).
4. **Parameter Pengeboran Tidak Sesuai:** Laju pengeboran (ROP) yang sering melebihi 50 ft/hr tidak didukung oleh laju aliran lumpur yang memadai (konsisten di bawah 650 gpm), menyimpang dari praktik terbaik industri.
5. **Perhitungan ECD Tidak Akurat:** Data *Equivalent Circulating Density* (ECD) yang diperoleh terlalu rendah dibandingkan perhitungan yang lebih akurat, sehingga menghambat tindakan mitigasi yang tepat.
Kombinasi faktor-faktor ini mengakibatkan akumulasi serpihan yang tidak terangkat, menyebabkan penyumbatan anulus (*packoff*), yang dikonfirmasi oleh peningkatan abnormal pada tekanan *standpipe* (SPP), dan akhirnya menyebabkan pipa terjepit.
Sebagai rekomendasi, penelitian ini mengusulkan peningkatan kualitas data, inspeksi peralatan menyeluruh, dan kontrol ketat terhadap parameter hidrolika dan mekanis (seperti ROP dan laju aliran lumpur) untuk operasi pengeboran di masa depan guna mencegah masalah serupa.