Tesis karya Mega Wijayanti Kusumadewi dari Institut Teknologi Bandung ini mengembangkan sensor elektrokimia berbasis elektroda pasta karbon (EPK) yang dimodifikasi dengan komposit multiwalled carbon nanotube-kitosan-nanopartikel emas (MWCNT-CS-AuNPs) untuk analisis metil paraben secara voltammetri. Metil paraben adalah pengawet kosmetik yang penggunaannya berlebih dapat menyebabkan gangguan endokrin dan berpotensi kanker, sehingga perlu metode deteksi yang sensitif sesuai batas BPOM (0,4% tunggal, 0,8% gabungan).
Modifikasi elektroda dilakukan melalui dropcasting suspensi MWCNT-CS diikuti elektrodeposisi AuNPs. Karakterisasi material mengkonfirmasi keberhasilan modifikasi, dan karakterisasi elektrokimia menunjukkan peningkatan luas permukaan elektroaktif EPK termodifikasi hingga 2,9 kali. Kondisi optimum deteksi metil paraben ditemukan menggunakan konsentrasi MWCNT dalam kitosan 2,5 mg/ml, potensial deposisi AuNPs 0,3 V selama 300 detik, dalam PBS pH 7.
Sensor ini menunjukkan respons elektrokimia yang baik terhadap oksidasi metil paraben dengan tiga rentang linear (1-10, 10-100, 100-1000 µM), batas deteksi (LOD) 0,506 µM, dan batas kuantifikasi (LOQ) 1,688 µM. Proses oksidasi dikendalikan oleh difusi. Sensor juga memiliki repeatability (RSD 4,47%), reproducibility (RSD 1,97%), dan stabilitas yang baik (87,93% kinerja awal setelah 20 hari). Uji interferensi dengan senyawa umum lain menunjukkan selektivitas tinggi.
Aplikasi pada sampel kosmetik (toner dan krim) memberikan hasil yang tidak berbeda signifikan dengan metode spektrofotometri UV-Vis, dengan nilai perolehan kembali antara 98,67-104,80%. Kadar metil paraben yang terdeteksi (0,1504% pada toner dan 0,4354% pada krim) berada di bawah batas maksimum BPOM.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa EPK-MWCNT-CS-AuNPs berpotensi sebagai sensor elektrokimia yang sensitif, akurat, presisi, selektif, dan stabil untuk memantau keamanan produk kosmetik.