Penelitian ini menguji kemampuan tiga isolat khamir (*Meyerozyma carpophila* M6.0.2, *Candida tropicalis* M5.0.1, dan *Rhodotorula mucilaginosa* BI.4.1.1) dalam memproduksi biosurfaktan dan mendegradasi plastik *high-density polyethylene* (HDPE).
**1. Skrining Medium dan Produksi Biosurfaktan:**
* Pengujian awal pada isolat M6.0.2 menggunakan *crude oil* sebagai sumber karbon menunjukkan bahwa medium MSM2 optimal untuk produksi biosurfaktan. Hal ini disebabkan oleh sumber nitrogen (NaNO3) yang diasimilasi lebih lambat, rasio C:N yang lebih tinggi, dan keberadaan *yeast extract* yang menyediakan kofaktor esensial, sehingga mengalihkan metabolisme untuk produksi biosurfaktan daripada pertumbuhan biomassa yang masif.
* Analisis FTIR mengidentifikasi biosurfaktan yang dihasilkan sebagai glikolipid. Lebih lanjut, analisis LCMS mengungkapkan bahwa M6.0.2 menghasilkan *Mannosylerythritol Lipids* (MELs) dengan berbagai kombinasi rantai asam lemak, sedangkan M5.0.1 dan BI.4.1.1 menghasilkan *Sophorolipids* (SLs) dalam berbagai bentuk (laktonik, asam, dan terasetilasi), dengan BI.4.1.1 menunjukkan kompleksitas struktur SL yang lebih tinggi.
**2. Uji Kualitatif Enzim Pendegradasi:**
* Ketiga isolat (M6.0.2, M5.0.1, BI.4.1.1) positif menghasilkan enzim Lignin Peroksidase (LiP), yang berperan dalam menginisiasi oksidasi rantai CH pada permukaan polimer menjadi gugus polar.
* Isolat M6.0.2 dan M5.0.1 juga menunjukkan aktivitas Lipase, yang membantu degradasi pada bagian polimer yang telah mengalami oksidasi awal.
* Tidak ada isolat yang menghasilkan Laccase.
**3. Uji Biodegradasi Plastik HDPE:**
* **M6.0.2:** Menunjukkan degradasi HDPE paling efektif (mencapai 1,55%). Isolat ini membentuk biofilm yang stabil dan memproduksi biosurfaktan secara adaptif, yang secara sinergis meningkatkan aksesibilitas substrat dan solubilisasi fragmen terdegradasi, mendorong depolimerisasi yang signifikan pada fase pertengahan hingga akhir.
* **M5.0.1:** Menunjukkan degradasi yang bertahap (mencapai 1,34%). Produksi biosurfaktan pada isolat ini penting dalam mensolubilisasi produk degradasi awal dan menjaga bioavailabilitas substrat, meskipun pembentukan biofilm mengalami fluktuasi.
* **BI.4.1.1:** Menunjukkan degradasi paling rendah (mencapai 0,65%). Meskipun pada awal inkubasi menghasilkan biosurfaktan tertinggi (1,96 g/L), konsentrasi tinggi ini justru menyebabkan ketidakstabilan dan dispersi biofilm, sehingga menghambat kontak sel-substrat yang efektif dan laju degradasi keseluruhan. Kemampuan depolimerase isolat ini juga diduga lebih rendah dibandingkan dua isolat lainnya.
**4. Bukti Degradasi (SEM & FTIR pada HDPE):**
* Analisis *Scanning Electron Microscopy* (SEM) menunjukkan peningkatan retakan dan kerusakan morfologi permukaan pada HDPE yang diperlakukan dengan isolat, sejalan dengan tingkat degradasi (%): M6.0.2 (>2 µm retakan) > M5.0.1 (>0,6 µm retakan) > BI.4.1.1 (>0,5 µm retakan), dibandingkan kontrol (minimal).
* Analisis *Fourier Transform Infrared* (FTIR) pada HDPE terdegradasi mengkonfirmasi perubahan kimia, yaitu munculnya puncak gugus karbonil (C=O) pada rentang 1740-1750 cm-1 pada semua sampel yang diinokulasi, membuktikan terjadinya proses oksidasi awal pada permukaan plastik.
**Kesimpulan:**
Efektivitas biodegradasi HDPE tidak semata-mata ditentukan oleh tingginya produksi biosurfaktan atau kepadatan biofilm, melainkan oleh keseimbangan dan sinergi antara strategi fisiologis mikroorganisme (termasuk jenis biosurfaktan yang diproduksi), stabilitas biofilm, dan kapasitas enzimatik (LiP dan Lipase) dalam menginisiasi oksidasi dan depolimerisasi polimer. Isolat M6.0.2 menunjukkan strategi yang paling seimbang dan efektif dalam mendegradasi HDPE.