Penelitian ini mengidentifikasi kenaikan signifikan dalam biaya produksi langsung divisi konsentrasi PT Freeport Indonesia (PTFI) sebesar USD 32 juta antara tahun 2009 dan 2013. Kenaikan ini terjadi di tengah penurunan tingkat produksi serta harga tembaga dan emas, yang secara negatif memengaruhi keuntungan perusahaan. Melalui analisis Pareto, ditemukan bahwa 92.8% dari kenaikan biaya disebabkan oleh pengeluaran untuk material (53.4%) dan *grinding balls* (39.4%). Lebih lanjut, *Failure Mode and Effects Analysis* (FMEA) mengidentifikasi delapan mode kegagalan utama dalam proses bisnis terkait, seperti tinjauan kinerja *liner* yang tidak memadai, kualitas perbaikan motor listrik yang buruk, dan ketidakakuratan perkiraan konsumsi *grinding ball*, yang berkontribusi pada peningkatan biaya tahunan sebesar USD 11.2 juta. Untuk mengatasi masalah ini, delapan solusi diformulasikan, termasuk peninjauan rutin kinerja *liner*, peningkatan akurasi inspeksi *mill liner*, perbaikan kualitas perbaikan motor, dan strategi operasional *feeder* yang lebih berkelanjutan.