Studi di Kecamatan Jatinangor menunjukkan bahwa masyarakatnya didominasi kelompok usia produktif dengan pendidikan rata-rata SMA/SMK dan pendapatan cenderung di bawah UMR. Pengelolaan sampah yang ada masih mengandalkan metode konvensional seperti pembakaran, bahkan di fasilitas TPS 3R yang belum optimal. Penelitian ini menemukan bahwa tingkat pendidikan dan pengalaman masyarakat sangat memengaruhi persepsi serta preferensi mereka terhadap pengelolaan sampah. Hasilnya menunjukkan potensi tinggi untuk menerapkan metode pengelolaan sampah berbasis digital dengan pendekatan gamifikasi, didukung oleh 56% responden yang memilih penyetoran sampah melalui aplikasi, sejalan dengan visi "smart environment" Sumedang. Meskipun demikian, tantangan utama adalah rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah. Oleh karena itu, direkomendasikan penyusunan peta jalan pengelolaan sampah terpadu, implementasi aplikasi setor sampah sebagai proyek percontohan, pengaktifan kembali fungsi TPS 3R, serta kolaborasi multi-pihak antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta.