Metodologi penelitian ini menjelaskan tahapan yang dilakukan, dimulai dari studi literatur untuk memperoleh landasan teori terkait permasalahan dan solusinya. Pengumpulan data meliputi dua jenis:
1. **Data Primer:** Diperoleh melalui pengukuran langsung debit sesaat di ruas Sungai Cisanggarung (hulu dan hilir) serta Sungai Citaal pada tanggal 2-19 Agustus 2025 di tiga lokasi.
2. **Data Sekunder:** Diperoleh dari hasil penelitian atau instansi lain, mencakup laporan studi BBWS Cimanuk Cisanggarung (DED, reviu desain, laporan akhir), pola dan rencana PSDA, data curah hujan harian (20 tahun), geometri sungai, historis banjir, tata guna lahan, jenis tanah, geoteknik, file SHP kejadian banjir, serta data DEM (FABDEM dan Lidar) dan Open Street Maps.
Analisis data dilakukan secara bertahap:
* **Analisis Topografi:** Menggunakan GIS dan HEC-HMS untuk mendapatkan karakteristik Daerah Aliran Sungai (DAS) Cisanggarung (bentuk, luas, kemiringan, panjang sungai), serta analisis tutupan lahan dan jenis tanah untuk menentukan nilai *curve number* dan *hidrology soil group*.
* **Analisis Hidrologi:** Meliputi penentuan dan pengujian data curah hujan dari pos terdekat, analisis distribusi frekuensi hujan rencana (metode Normal, Log Normal, Gumbel, Log Pearson III) dan pengujian kesesuaian distribusi, perhitungan curah hujan wilayah (Polygon Thiessen) dan *Area Reduction Factor* (ARF), analisis *Curve Number* dan curah hujan efektif (metode SCS), distribusi hujan jam-jaman (PSA007), serta perhitungan debit banjir rencana menggunakan HEC-HMS dan Nakayasu, diikuti dengan kalibrasi debit.
* **Analisis Hidraulika:** Melakukan pemodelan penanganan tanggul banjir dan pengerukan (1D untuk sungai dengan panjang 2,55 km) serta pemodelan genangan (2D di Desa Andamui) menggunakan HEC-RAS 6.5 dengan skema *unsteady flow*, yang kemudian diverifikasi dan divalidasi berdasarkan kejadian banjir di lapangan.
Terakhir, penelitian ini mengembangkan beberapa skenario pemodelan banjir dan kajian risiko menggunakan debit banjir rencana periode ulang 25 tahun (Q25). Skenario ini mencakup kondisi eksisting tanpa penanganan, kondisi setelah penanganan oleh BBWS (pengerukan dan tanggul di Sungai Cisanggarung), dan kondisi dengan penanganan tambahan atau alternatif di Sungai Cijurey (pengerukan dan kolam retensi).