Kinerja perkerasan jalan dinilai dari kemampuannya menahan beban lalu lintas dan pengaruh lingkungan selama masa layan. Evaluasi berkala diperlukan untuk memastikan perkerasan memberikan masa layan sesuai rencana, meliputi kekuatan fungsional (keamanan dan kenyamanan) dan struktural (kapasitas menahan beban). Survei kondisi jalan secara konsisten memberikan data kondisi perkerasan sebagai acuan strategi pemeliharaan dan prediksi kondisi di masa depan. Deteriorasi perkerasan disebabkan oleh lalu lintas, umur, lingkungan, serta kesalahan perencanaan/pelaksanaan, yang dapat berupa kerusakan struktural atau fungsional. Pemeliharaan rutin, berkala, rehabilitasi, dan rekonstruksi diperlukan untuk mempertahankan kondisi optimal. Remaining Life (RL) atau sisa umur perkerasan menjadi indikator penting dalam manajemen aset jalan, yang dihitung berdasarkan kondisi struktural dan fungsional, serta membantu menentukan program pemeliharaan yang tepat dan efisien. Metode AASHTO 1993 digunakan untuk menganalisis data lendutan dari Light Weight Deflectometer (LWD) dalam menentukan nilai modulus resilien tanah dasar, kapasitas struktural, dan perkiraan umur sisa perkerasan jalan.