Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sistem pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hibrida di daerah terpencil efektif dalam mengurangi biaya energi, meningkatkan keandalan sistem, dan menurunkan emisi karbon. Namun, hasilnya bervariasi tergantung pada faktor geografis, pola konsumsi energi, dan kapasitas teknologi yang digunakan, sehingga desain sistem perlu disesuaikan dengan kondisi lokal. Penelitian-penelitian ini mengevaluasi berbagai konfigurasi PLTS hibrida yang menggabungkan PLTS, pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD), dan Battery Energy Storage System (BESS) di berbagai lokasi seperti Filipina, Vietnam, Indonesia, India, Nigeria, Turki, Rusia, Kolombia, dan Sudan. Studi-studi ini menggunakan perangkat lunak seperti HOMER Pro dan PVsyst untuk merancang dan menganalisis sistem, dengan fokus pada kelayakan teknis, ekonomis, dan lingkungan. Beberapa penelitian juga menyoroti pentingnya mempertimbangkan stabilitas sistem kelistrikan, khususnya tegangan dan frekuensi, dalam perancangan sistem PLTS hibrida.