Pada tahun 2024, ekonomi global diproyeksikan tumbuh sekitar 3.2%, dengan Indonesia diharapkan tetap tangguh dengan pertumbuhan 5.2%. Pemerintah Indonesia menjadikan transisi ke energi bersih sebagai strategi utama, terutama melalui percepatan adopsi kendaraan listrik (EV) untuk mengurangi emisi karbon dan ketergantungan pada bahan bakar fosil, sejalan dengan komitmen pada Perjanjian Paris. Meskipun berbagai insentif dan regulasi telah diterapkan, adopsi EV masih menghadapi tantangan seperti harga yang relatif tinggi, infrastruktur pengisian daya yang terbatas, dan pemahaman publik yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengalaman konsumen pasca-pembelian EV, khususnya jenis Battery Electric Vehicle (BEV) di wilayah Jabodetabek, untuk memberikan kontribusi ilmiah dan praktis dalam memperkuat strategi pengembangan ekosistem EV nasional yang inklusif, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan pengguna akhir.