Bab IV ini menyajikan analisis kestabilan lereng yang mengalami kegagalan di dua lokasi tambang (PT A dan PT B) menggunakan metode limit equilibrium, elemen hingga (FEM), dan metode Sakurai. Analisis dilakukan untuk memperoleh parameter kritis kekuatan geser (kohesi dan sudut geser dalam), menganalisis deformasi, dan mengevaluasi kesesuaian hasil simulasi dengan kondisi lapangan. Pemodelan awal dilakukan dengan metode limit equilibrium menggunakan software Slide2, dilanjutkan dengan analisis balik konvensional untuk mendapatkan parameter kekuatan geser yang merepresentasikan kondisi lereng sesaat sebelum kegagalan. Kemudian, dilakukan pemodelan numerik FEM menggunakan RS2 untuk mengevaluasi perilaku lereng, termasuk perkembangan zona plastis dan deformasi, serta memperoleh nilai Strength Reduction Factor (SRF). Metode Sakurai diterapkan sebagai alternatif analisis balik berdasarkan hubungan tegangan dan regangan, dengan membandingkan hasil deformasi numerik terhadap hasil pemodelan konvensional. Di PT B, yang memiliki data monitoring deformasi (SSR), hasil pemodelan dibandingkan dengan data aktual untuk validasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa parameter dari analisis balik lebih mendekati kondisi lapangan dibandingkan parameter laboratorium, dan metode Sakurai memberikan estimasi deformasi yang lebih akurat dibandingkan metode konvensional, terutama dalam kondisi pasca-longsor. Perbandingan nilai kohesi dan sudut gesek dalam dari berbagai metode juga menunjukkan pentingnya kalibrasi parameter mekanik berdasarkan kondisi lapangan.