Lereng adalah bagian permukaan bumi yang memiliki kemiringan, terbentuk secara alami atau akibat aktivitas manusia, dan berpotensi mengalami longsor karena pengaruh gaya gravitasi. Stabilitas lereng bergantung pada keseimbangan antara gaya penggerak (seperti berat material dan tekanan air) dan gaya penahan (seperti kohesi dan gesekan internal). Faktor-faktor seperti karakteristik material, kondisi air tanah, geometri lereng, struktur geologi, dan beban tambahan mempengaruhi stabilitasnya. Analisis stabilitas lereng penting untuk menentukan geometri yang aman dan menggunakan faktor keamanan (FK) sebagai indikator utama. Metode analisis meliputi kesetimbangan batas, elemen hingga, dan probabilistik, yang didukung oleh teknologi pemantauan seperti inklinometer, ekstensometer, radar pemantauan lereng, dan piezometer. Slope monitoring bertujuan mendeteksi pergerakan tanah sejak dini dan mencegah kegagalan lereng dengan menggunakan teknologi modern seperti Slope Stability Radar (SSR). Regangan kritis merupakan parameter mekanik penting dalam analisis perilaku material geoteknik, yang dikorelasikan dengan pengamatan deformasi lapangan untuk analisis kestabilan lereng. Analisis balik (back analysis) digunakan untuk mengetahui parameter kritis penyebab kelongsoran dan mengevaluasi desain lereng yang ada. Analisis probabilistik mempertimbangkan ketidakpastian parameter geoteknik, dan metode elemen hingga (FEM) digunakan untuk pemodelan masalah fisik melibatkan interaksi gaya, deformasi, dan tegangan pada lereng. Tekanan air pori, yang dipengaruhi oleh metode static water dan steady-state FEA, sangat mempengaruhi stabilitas lereng. Penelitian terdahulu membantu sebagai pedoman dasar dalam menyelesaikan penelitian terkait kestabilan lereng.