Tesis ini mengkaji evolusi geokimia dan perilaku kromium (Cr), khususnya kromium heksavalen (Cr(VI)) yang toksik, dalam air tambang nikel laterit menggunakan uji pelindian kolom jangka panjang dan pemodelan PHREEQC. Penelitian terhadap sampel bijih (ore) dan batuan sisa (overburden) dari Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa Cr(VI) hanya terdeteksi pada air lindi sampel ore, terutama ore Sorowako dengan konsentrasi tertinggi 0,1428 mg/L, dan tidak terdeteksi pada sampel overburden meskipun memiliki kandungan Cr total yang tinggi.
Analisis mineralogi (XRD/XRF) mengidentifikasi mineral seperti goethite, antigorite, dan saponite sebagai pembawa Cr(III) utama, yang mengalami perubahan fasa setelah pelindian. Pemodelan geokimia PHREEQC mengonfirmasi bahwa spesies dominan Cr(VI) dalam air lindi adalah HCrO4- dan CrO4^2-, konsisten dengan kondisi pH netral dan lingkungan oksidatif. Pelepasan Cr(VI) ini, yang mengikuti kinetika reaksi orde nol, dipengaruhi oleh ketersediaan Cr(III) reaktif dan proses oksidasi oleh oksida mangan atau fotokimia. Temuan ini mengindikasikan bahwa pelapukan batuan ore nikel laterit adalah sumber utama pencemaran Cr(VI), sehingga pengelolaan tambang memerlukan strategi pencegahan seperti isolasi ore reaktif serta pengendalian pH dan limpasan air untuk menekan risiko pelepasan Cr(VI).