Tantangan termal di tambang bawah tanah Indonesia, khususnya di daerah epitermal seperti Halmahera Utara, muncul karena sistem hidrotermal aktif yang mampu mendorong suhu lingkungan kerja mencapai 50–80 °C; kondisi ini menurunkan performa alat dan membahayakan pekerja. Untuk memahami respons batuan terhadap suhu tinggi, dilakukan serangkaian pengujian laboratorium: sifat fisik (bobot isi, porositas, penyerapan air), UCS, Point Load Index, kecepatan gelombang ultrasonik, kuat tarik tak langsung (Brazilian) dan triaksial. Hasil studi membuktikan bahwa kenaikan temperatur umumnya menurunkan kekuatan mekanik (UCS, kecepatan gelombang) dan densitas, sekaligus meningkatkan porositas serta keretakan mikro. Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan air dan panas menjadi faktor dominan: kadar air naik 1 % dapat menurunkan UCS hingga ~24 %, sementana pemansan > 300 °C pada batu pasir maupun karbonat secara signifikan melemahkan batuan. Oleh karena itu, desain keamanan terowongan panas harus mempertimbangkan kombinasi suhu, kadar air, dan perubahan sifat fisik-mekanik batuan.