Teks ini memperkenalkan peran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia dalam mendorong inovasi dan komersialisasi hasil riset, mengikuti jejak negara-negara seperti Korea Selatan. BRIN, yang didirikan pada tahun 2021 melalui penggabungan lembaga riset nasional, memiliki misi utama untuk melakukan riset, pengembangan, dan memfasilitasi komersialisasi inovasi, termasuk melalui program inkubasi startup berbasis riset.
Salah satu inisiatif kunci BRIN adalah program *Research and Innovation for Advanced Indonesia Startup* (RIIM Startup) yang diluncurkan pada tahun 202. Program ini bertujuan mentransformasi hasil riset dari berbagai institusi menjadi produk atau layanan siap pasar melalui pendanaan, bimbingan, dan sumber daya. Hingga 2024, program RIIM telah melibatkan 74 startup, dengan 31 di antaranya telah lulus.
Namun, teks menyoroti tantangan operasional signifikan pada program RIIM. Kesenjangan utama adalah **kurangnya sistem pemantauan pasca-inkubasi** yang sistematis, sehingga sulit untuk menilai keberhasilan jangka panjang, keberlanjutan, dan dampak nyata startup setelah lulus dari program. Data mengenai efektivitas program dalam mendukung pertumbuhan bisnis dan komersialisasi startup juga dinilai tidak memadai.
Mengingat tantangan ini, penelitian ini bertujuan untuk **mengevaluasi efektivitas program RIIM Startup BRIN** dalam merevitalisasi komersialisasi inovasi di Indonesia. Secara spesifik, penelitian akan menilai seberapa efektif program ini dalam membantu startup mencapai kesiapan bisnis, adopsi pasar, dan keberlanjutan. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan kepada BRIN untuk meningkatkan program, memberikan wawasan bagi startup, berkontribusi pada akademisi, dan menjadi dasar bagi pembuat kebijakan.
Penelitian ini akan berfokus pada evaluasi internal program RIIM BRIN selama periode 202-2024, dengan subjek penelitian meliputi peserta startup dan tim riset, serta manajer program BRIN. Keterbatasan penelitian meliputi tidak adanya perbandingan eksternal, fokus pada dampak jangka pendek hingga menengah, serta ketergantungan pada ketersediaan data dari BRIN.