Tesis ini merancang video dokumenter 360 berbasis VR untuk memperkenalkan gambar cadas prasejarah di Karst Sangkulirang-Mangkalihat, yang menghadapi tantangan pelestarian karena keterbatasan akses dan kesadaran publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan *design thinking* untuk mengembangkan prototipe video VR yang diuji pada siswa SMA/SMK, menghasilkan format serial tiga episode yang didistribusikan melalui *microsite* interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa VR 360 lebih unggul dalam membangun *sense of presence* dan realisme visual dibandingkan video 2D, meskipun efektivitas narasi lebih baik pada 2D. Penelitian ini merumuskan enam pilar persyaratan desain untuk diseminasi dan pelestarian warisan budaya digital melalui pengalaman imersif generasi muda.