Tinjauan literatur ini membahas faktor-faktor yang mempengaruhi risiko gagal bayar dalam pinjaman online, meliputi motivasi ekonomi, modal sosial, perilaku risiko, dan literasi keuangan. Penelitian di bidang keuangan tradisional berasumsi pasar rasional, namun, behavioral finance memperkenalkan bias kognitif dan pengaruh emosional yang dapat menyebabkan perilaku irasional dalam pinjaman online, yang berdampak pada keputusan peminjaman dan pengembalian. Perkembangan fintech, didorong oleh teknologi seperti AI dan big data, mengubah lanskap keuangan dengan menawarkan kemudahan dan aksesibilitas yang lebih besar, namun juga meningkatkan kebutuhan akan peningkatan kemampuan keuangan.
Ekosistem pinjaman online berkembang pesat karena kemajuan teknologi dan perubahan preferensi konsumen, terutama selama pandemi COVID-19, menawarkan proses yang lebih cepat dan mudah daripada bank tradisional. AI dan machine learning meningkatkan akurasi penilaian kredit, tetapi menimbulkan kekhawatiran tentang privasi data dan bias algoritmik yang dapat mengarah pada diskriminasi. Pinjaman online meningkatkan inklusi keuangan, terutama bagi mereka yang tidak memiliki akses ke bank tradisional, melalui aplikasi seluler dan produk keuangan yang dipersonalisasi.
Namun, regulasi pinjaman online masih berkembang, dengan banyak platform beroperasi tanpa pengawasan yang memadai, sehingga rentan terhadap praktik-praktik predator. Meskipun OJK dan AFPI telah mengatur industri ini, masih banyak penyedia pinjaman ilegal yang melakukan pelanggaran seperti akses ilegal ke kontak telepon dan penagihan utang yang agresif. Motivasi ekonomi mendorong individu untuk meminjam, baik karena kebutuhan mendesak atau untuk memanfaatkan peluang yang menguntungkan. Peminjam yang termotivasi secara ekonomi cenderung memiliki pola pembayaran yang berbeda dan evaluasi risiko.
Modal sosial, termasuk ikatan, jembatan, dan penghubung, memengaruhi perilaku keuangan individu. Jaringan sosial yang kuat dapat memberikan dukungan finansial dan meningkatkan akuntabilitas, mengurangi kemungkinan gagal bayar. Sebaliknya, modal sosial yang rendah dapat menyebabkan kurangnya dukungan dan peningkatan ketergantungan pada pinjaman berbiaya tinggi. Perilaku pengambilan risiko, dipengaruhi oleh faktor psikologis dan keuangan, dapat menyebabkan keputusan pinjaman yang buruk dan ketidakstabilan keuangan. Profil risiko peminjam mencakup faktor-faktor seperti rasio utang terhadap pendapatan, riwayat kredit, dan tingkat literasi keuangan.
Literasi keuangan, yang mencakup pengetahuan, perilaku, dan sikap keuangan, sangat penting untuk membuat keputusan keuangan yang tepat. Kurangnya literasi keuangan dapat menyebabkan keputusan pinjaman yang buruk dan peningkatan risiko gagal bayar. Studi sebelumnya telah meneliti determinan gagal bayar pinjaman online, tetapi kurangnya integrasi determinan-determinan ini pada platform pinjaman online menjadi masalah. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami bagaimana faktor-faktor ini berinteraksi untuk mempengaruhi perilaku peminjam dalam lingkungan fintech yang berkembang pesat. Penelitian ini merumuskan hipotesis bahwa motivasi ekonomi yang tinggi, modal sosial yang rendah, perilaku pengambilan risiko yang tinggi, dan literasi keuangan yang rendah secara signifikan meningkatkan kemungkinan gagal bayar dalam pinjaman online.