Analisis data dilakukan dengan metode campuran untuk memahami masalah penelitian secara komprehensif. Data kuantitatif digunakan untuk memberi bobot pada setiap pemangku kepentingan melalui survei perbandingan berpasangan dan AHP untuk analisis data. Pengukuran indikator dilakukan melalui survei skala desimal. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara, dengan analisis kesenjangan dan matriks Eisenhower sebagai metode analisis data. Integrasi data kuantitatif dan kualitatif menghasilkan analisis yang lebih komprehensif. Studi ini menganalisis hasil dengan wawancara ahli dari pemangku kepentingan internal (direktur utama dan 13 perwakilan karyawan) dan eksternal. Wawancara menggunakan kerangka kerja performance prism untuk menciptakan indikator yang sesuai, dan dari 76 indikator, 36 dipilih untuk sistem manajemen kinerja CV Kreasi Faster Indonesia.
Identifikasi pemangku kepentingan dibagi menjadi 5 kelompok utama: direktur utama, karyawan, pelanggan, pemasok, dan masyarakat. Aspek performance prism ditentukan oleh kelompok pemangku kepentingan, melibatkan kepuasan pemangku kepentingan, kontribusi, strategi, proses, dan kemampuan. Jawaban dari setiap aspek kepuasan dan kontribusi dieliminasi berdasarkan prioritas KPI yang dibutuhkan berdasarkan survei dari ahli internal.
**Hasil Identifikasi Performance Prism per Pemangku Kepentingan:**
1. **Direktur Utama:** Fokus pada peningkatan kepuasan pelanggan, pencarian pesanan skala besar, dan pengembangan strategi pemasaran langsung. Mengawasi disiplin karyawan, mengurangi biaya produksi, dan mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas.
2. **Karyawan:** Mengutamakan pergerakan barang yang cepat dan baik antar divisi, ketepatan waktu produksi, dan fasilitas kerja yang optimal. Berkontribusi pada pencapaian target produksi, pengumpulan hutang yang sukses, dan peningkatan pemahaman staf tentang proses administrasi.
3. **Pelanggan:** Mengharapkan pemenuhan perjanjian pembelian barang, pengiriman dan produksi tepat waktu, serta harga yang sesuai anggaran. Berkontribusi dengan memberikan pesanan reguler, membayar tepat waktu, dan memberikan umpan balik mengenai produk.
4. **Pemasok:** Mengharapkan pembayaran tepat waktu, harga yang kompetitif, dan peningkatan permintaan dari perusahaan. Berkontribusi dengan memberikan harga yang menguntungkan, ketersediaan stok, dan pengiriman yang tepat waktu.
5. **Masyarakat:** Mengharapkan perusahaan terlibat dalam kegiatan masyarakat lokal, memperhatikan polusi dan limbah, serta menyerap tenaga kerja lokal. Berkontribusi dengan membantu kegiatan gotong royong, memberikan kemudahan dalam perizinan, dan melakukan pelatihan untuk tenaga kerja lokal.
Setelah identifikasi, KPI dikonversi menjadi parameter pengukuran kinerja. Data diperoleh melalui wawancara dan tolok ukur dari performance prism variable banks. Analisis kesenjangan digunakan untuk mengklasifikasikan KPI berdasarkan tingkat kepentingan terhadap tujuan jangka pendek perusahaan. Total 76 ukuran diidentifikasi dan dikategorikan, dengan kategori 1 (masalah serius yang harus segera diperbaiki) terdiri dari 13 indikator. Matriks Eisenhower digunakan untuk menambahkan penilaian urgensi. KPI diklasifikasikan ke dalam empat kuadran matriks Eisenhower, dan KPI yang diklasifikasikan ke dalam kuadran 4 (tidak penting dan tidak mendesak) dihapus. Pada akhirnya, 36 indikator dipilih untuk sistem manajemen kinerja CV Kreasi Faster Indonesia.
**Scoring Pengukuran KPI:**
Kuesioner penilaian KPI menggunakan skala desimal 1-10. Hasil pengukuran kinerja dikategorikan menggunakan sistem lampu lalu lintas: 8.0-10 (hijau/tinggi/sangat baik), 4.0-7.9 (kuning/sedang/rata-rata), dan 1.0-3.9 (merah/rendah/buruk).
**Hasil Penilaian KPI:**
* **Direktur Utama:** Sebagian besar skor sedang, dengan satu KPI (pelaporan tugas lintas departemen) diklasifikasikan sebagai kinerja buruk.
* **Karyawan:** Sebagian besar pengukuran berada pada tingkat sedang/rata-rata.
* **Pelanggan:** Sebagian besar KPI berada pada tingkat sedang/rata-rata, dengan satu KPI (pesanan prioritas selesai tepat waktu) pada tingkat tinggi/sangat baik.
* **Pemasok:** Sebagian besar skor sedang/rata-rata, dengan satu KPI (hubungan jangka panjang) pada tingkat tinggi/sangat baik.
* **Masyarakat:** KPI sedang/rata-rata.
Strategi peningkatan difokuskan pada penyelarasan implementasi KPI dengan urgensi dan skala masalah bisnis.
**Desain Tahap Pengembangan Sistem Manajemen Kinerja:**
Selain skala desimal, AHP digunakan untuk menghitung bobot kelompok pemangku kepentingan. Pelanggan memiliki prioritas tertinggi (31%), diikuti oleh direktur utama (24%), karyawan (22%), pemasok (17%), dan masyarakat (6%). Konsistensi rasio (CR) menunjukkan bahwa semua responden membuat penilaian yang akurat.
**Sistem Manajemen Kinerja (PMS) yang Diusulkan:**
PMS menggabungkan prioritas pemangku kepentingan dan urgensi kinerja. Indikator kinerja (KPI) diberi bobot berdasarkan skor kinerja. Skor kinerja KPI yang lebih rendah disertakan dalam rencana prioritas. Total skor kinerja (TPS) adalah 22,52, menunjukkan masih ada ruang untuk perbaikan.
**Rencana Implementasi:**
Implementasi dilakukan secara bertahap:
* **Fase 1:** Peningkatan kinerja di bidang KPI kritis (pengendalian keuangan, pelaporan internal, keandalan mesin, dan produktivitas penjualan).
* **Fase 2:** Perluasan PMS untuk mencakup pengendalian kualitas, sumber daya manusia, dan pengembangan strategis.
Implementasi terstruktur dimulai pada Oktober 2025 dengan perencanaan dan penetapan target. Fase 2 berfokus pada pelatihan staf lintas divisi. Fase 3 berfokus pada perbaikan mendesak terhadap KPI yang kinerjanya buruk. Fase 4 berfokus pada peningkatan KPI tingkat sedang untuk mencapai kinerja tinggi. Fase 5 memastikan pemantauan jangka panjang dan evaluasi triwulanan.
**Pelaporan dan Evaluasi:**
Evaluasi kinerja kelompok pemangku kepentingan dibagi menjadi lima aspek performance prism. Diagram spider web digunakan untuk membandingkan kinerja di antara kelompok pemangku kepentingan. Hasil penilaian menyoroti kebutuhan perbaikan di beberapa area, seperti kepuasan direktur utama, kontribusi pemangku kepentingan, proses internal, dan kemampuan pemasok.