Penelitian ini menganalisis potensi sinergi dari pengambilalihan PT Waskita Karya Tbk oleh PT Hutama Karya, sebagai bagian dari rencana restrukturisasi BUMN Karya yang mengalami penurunan laba sejak 2020. Dengan menggunakan metode Discounted Cash Flow (DCF) dan analisis Free Cash Flow to the Firm (FCFF), studi ini menemukan bahwa konsolidasi tersebut justru menghasilkan sinergi negatif, bahkan setelah mempertimbangkan sinergi operasional dan finansial. Hal ini disebabkan oleh tingginya biaya modal (cost of capital) akibat risiko finansial dari Waskita Karya. Penelitian menyarankan restrukturisasi modal dengan injeksi modal dari pemerintah sebesar Rp 60,77 triliun ke Hutama Karya untuk mencapai struktur modal optimal dan berpotensi menciptakan sinergi positif.