Bab pengantar ini membahas pentingnya sayap morphing dalam pengembangan pesawat modern. Sayap morphing memungkinkan pesawat untuk menyesuaikan geometrinya secara *real-time* guna mencapai kinerja optimal di berbagai kondisi penerbangan dan misi, berbeda dengan pesawat konvensional yang cenderung dioptimalkan untuk satu titik desain.
Meskipun banyak penelitian telah berfokus pada kinerja aerodinamis sayap morphing, teks ini menyoroti bahwa perubahan geometri yang drastis selama morphing dapat memengaruhi distribusi massa, pusat gravitasi, dan kekakuan struktural, yang pada gilirannya dapat menimbulkan masalah aeroelastisitas (interaksi antara dinamika, elastisitas, dan gaya aerodinamis) seperti fenomena *flutter*. Aeroelastisitas sangat krusial untuk kelaikan udara dan sertifikasi pesawat.
Penelitian ini mengusulkan analisis aeroelastis untuk Sayap Lipat Diamondback yang beroperasi pada rezim supersonik (Mach 2.0). Sayap Lipat Diamondback adalah desain inovatif yang dikembangkan dari konsep sayap sapuan variabel, menawarkan keuntungan struktural tetapi juga menghadirkan tantangan aeroelastis yang kompleks.
**Masalah penelitian** berpusat pada bagaimana kemampuan morphing sayap lipat diamondback, khususnya variasi sudut sapuan (sweptback angle), memengaruhi karakteristik dinamika struktural, perilaku aeroelastis, dan respons transiennya.
**Tujuan penelitian** adalah:
1. Membuat model Sayap Lipat Diamondback yang disederhanakan namun akurat.
2. Melakukan analisis dinamika struktural untuk berbagai konfigurasi sudut sapuan menggunakan Metode Elemen Hingga (FEM).
3. Melakukan analisis aeroelastis dinamis untuk konfigurasi sayap yang sama menggunakan metode Double Lattice (DLM) dan ZONA51.
**Metodologi** yang digunakan adalah simulasi numerik fidelitas rendah, meliputi pemodelan (FEM untuk struktur, DLM/ZONA51 untuk aerodinamika tak stabil), validasi, analisis modal, analisis *flutter* menggunakan metode *PK flutter*, dan analisis respons transien.
**Batasan penelitian** mencakup analisis setengah sayap, Mach 2.0 tetap, tanpa efek gelombang kejut, dan tidak menganalisis selama fase morphing itu sendiri.