Teks tersebut membahas tinjauan pustaka mengenai monasit, unsur tanah jarang (UTJ), plasma hidrogen, dan metode dekomposisi monasit.
**Monasit** adalah mineral fosfat monoklinik yang merupakan sumber utama *light rare earth elements* (LREEs) seperti La, Ce, dan Nd, serta mengandung sejumlah torium dan uranium. Meskipun kaya akan UTJ yang krusial untuk teknologi tinggi (misalnya magnet, katalis, elektronik), monasit bersifat sangat inert, stabil secara termal (titik leleh 1900-2100°C), dan memerlukan proses dekomposisi kimia yang agresif untuk ekstraksi UTJ.
Metode dekomposisi konvensional melibatkan perlakuan asam kuat (misalnya H2SO4 pada 200-300°C) atau basa kuat (misalnya NaOH pada 140°C). Kedua metode ini memerlukan reagen konsentrasi tinggi, suhu tinggi, waktu lama, serta menghasilkan limbah kimia dan radioaktif dalam jumlah besar yang dapat mencemari lingkungan.
Sebagai alternatif, **plasma hidrogen** (plasma termal) yang merupakan gas terionisasi pada suhu sangat tinggi (5.000-25.000 K) menawarkan potensi dekomposisi termal. Studi termodinamika menunjukkan bahwa perlakuan plasma dapat mendisosiasi struktur REEPO4 menjadi oksida tanah jarang yang lebih reaktif dan meningkatkan kelarutannya saat pelindian, dengan perkiraan suhu dekomposisi fosfat tanah jarang di atas 1400°C (beberapa bahkan 2500-3000°C).
Penelitian terdahulu mengindikasikan bahwa perlakuan monasit dengan plasma termal secara signifikan meningkatkan efisiensi ekstraksi UTJ (hingga 44%) dibandingkan sampel tanpa perlakuan. Teknologi *Hydrogen Plasma Smelting Reduction* (HPSR) juga telah terbukti efektif dalam mereduksi berbagai oksida logam lain menjadi logam murni dengan cepat dan ramah lingkungan, tanpa menghasilkan polutan seperti belerang, fosfor, atau karbon. Oleh karena itu, HPSR memiliki potensi besar sebagai metode dekomposisi monasit yang efisien dan berkelanjutan untuk ekstraksi UTJ.