Teks ini membahas hasil dan pembahasan mengenai ketersediaan, aksesibilitas, penerimaan, dan kualitas air di Kelurahan Tamansari, khususnya di RW 13 dan RW 14, serta analisis kepentingan dan kepuasan masyarakat (IPA) terhadap layanan air bersih.
**Ringkasan Eksekutif:**
Studi ini menyoroti disparitas signifikan dalam pelayanan air bersih antara RW 13 dan RW 14 di Kelurahan Tamansari, Kota Bandung. Meskipun layanan air bersih sangat penting bagi kedua wilayah, RW 14 secara konsisten menunjukkan kinerja yang lebih baik dalam ketersediaan, aksesibilitas, penerimaan, dan kualitas air dibandingkan RW 13. Analisis Importance Performance Analysis (IPA) mengkonfirmasi bahwa banyak atribut pelayanan air di RW 13 berada di kuadran "Area Paling Krusial" (penting tapi kinerja buruk), sementara RW 14 sebagian besar berada di kuadran "Pertahankan Kinerja yang Baik" (penting dan kinerja baik) atau "Kemungkinan Berlebihan" (kinerja baik tapi tidak terlalu penting).
**Detail Temuan:**
1. **Ketersediaan Air:**
* **RW 13:** Menghadapi masalah serius dalam ketersediaan air setiap waktu (hanya 50% responden melaporkan air tersedia setiap waktu), kelancaran distribusi (banyak yang merasa kurang lancar/tidak lancar), seringnya ketiadaan air (47% pernah mengalami), dan kecukupan air (29% merasa kurang). Sumber air utama adalah pompa sumur individu (biaya listrik tinggi, kualitas bervariasi) dan PDAM (distribusi belum merata, masalah bau/rasa).
* **RW 14:** Menunjukkan kinerja yang jauh lebih baik (77,14% air tersedia setiap waktu, 65,71% distribusi sangat lancar, 100% merasa cukup). Meskipun juga mengandalkan sumur individu dan PDAM, distribusinya lebih efisien dan masalah lebih sedikit.
2. **Aksesibilitas Air:**
* **RW 13:** Warga menghadapi kendala fisik yang lebih besar, seperti jarak tempuh yang jauh untuk mengambil air (3% >1000 meter), waktu pengambilan air yang lama (39% >30 menit), dan kesulitan akses yang lebih tinggi (30,85%). Akses informasi terkait perubahan air juga sangat rendah (hanya 2% menerima pemberitahuan). Biaya bulanan relatif rendah, tetapi mungkin karena ketergantungan pada sumber alternatif yang belum dihitung secara komprehensif atau kualitas rendah.
* **RW 14:** Menikmati akses fisik yang lebih baik (tidak ada yang menempuh jarak >1000m, lebih sedikit yang butuh waktu lama), dan lebih sedikit kesulitan akses (14,29%). Akses informasi juga lebih baik (17% menerima pemberitahuan). Biaya bulanan bervariasi, dengan beberapa pengeluaran sangat tinggi, mungkin karena kualitas atau kuantitas penggunaan PDAM yang lebih baik.
3. **Penerimaan dan Kualitas Air:**
* **RW 13:** Kualitas air lebih buruk (5,32% melaporkan air berbau, berwarna, dan berasa) dan tingkat kepuasan lebih rendah (63% puas).
* **RW 14:** Kualitas air umumnya lebih baik (tidak ada keluhan tentang bau, warna, rasa) dan tingkat kepuasan jauh lebih tinggi (82,86% puas).
4. **Analisis Importance Performance Analysis (IPA):**
* **Secara Keseluruhan:** Sebagian besar atribut terkait air bersih dianggap **sangat penting** oleh masyarakat (nilai rata-rata kepentingan tinggi), namun **tingkat kepuasan rata-rata masih rendah**. Ini menunjukkan kesenjangan antara harapan dan kenyataan.
* **RW 13:** Sebagian besar atribut penting seperti ketersediaan air 24 jam, waktu & jarak pengambilan air, kemudahan akses, dan kemudahan informasi berada di **Kuadran 4 (Area Paling Krusial)**, artinya sangat penting bagi masyarakat namun kinerjanya sangat buruk. Beberapa atribut lain seperti tarif air, warna, rasa, bau, kualitas air untuk kesehatan, dan dampak air yang dikonsumsi berada di **Kuadran 3 (Kinerja Tidak Terlalu Baik, Namun Kurang Penting bagi Konsumen)**. Ini berarti ada ketidakpuasan tetapi tidak dianggap sebagai masalah utama yang mendesak.
* **RW 14:** Sebagian besar atribut penting seperti ketersediaan air 24 jam, tarif air, semua warga harus mendapatkan air bersih, warna, rasa, bau, kualitas air untuk kesehatan, dan dampak air yang dikonsumsi berada di **Kuadran 1 (Pertahankan Kinerja yang Baik)**, menunjukkan kinerja optimal dan kepuasan tinggi. Beberapa atribut lain seperti ketersediaan air melimpah, jarak & waktu pengambilan air, debit air, kemudahan akses, jumlah orang mengakses, dan kemudahan informasi berada di **Kuadran 2 (Kemungkinan Berlebihan)**, artinya kinerjanya sangat baik namun dianggap kurang penting oleh masyarakat, mengindikasikan potensi alokasi sumber daya yang terlalu banyak.
**Kesimpulan dan Rekomendasi:**
Ada ketimpangan besar dalam pelayanan air bersih antara RW 13 dan RW 14.
* **Untuk RW 13:** Diperlukan intervensi segera dan signifikan untuk memperbaiki infrastruktur distribusi air, meningkatkan ketersediaan dan kualitas air, serta memperbaiki komunikasi informasi kepada warga. Prioritas harus diberikan pada atribut di Kuadran 4.
* **Untuk RW 14:** Kinerja yang sudah baik harus dipertahankan. Namun, pengelola air perlu mengevaluasi kembali alokasi sumber daya untuk atribut di Kuadran 2, mengidentifikasi apakah ada pemborosan, dan mempertimbangkan untuk mengalihkan sebagian sumber daya tersebut ke wilayah yang lebih membutuhkan, seperti RW 13, untuk mencapai pemerataan layanan air bersih yang lebih adil dan efisien di Kelurahan Tamansari secara keseluruhan.