MSMEs memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi dan inovasi di berbagai negara, termasuk Indonesia, di mana mereka menyumbang 61% dari PDB dan menyerap 97% tenaga kerja. MSMEs terbukti tangguh dalam menghadapi krisis. Kesadaran global akan masalah lingkungan, ketidakadilan sosial, dan tata kelola perusahaan yang buruk mendorong praktik bisnis yang etis dan berkelanjutan. Korporasi memainkan peran penting dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Keterlibatan bisnis dalam SDGs dapat membuka potensi keuntungan sekitar 12 triliun USD per tahun.
Praktik bisnis berkelanjutan menjadi kunci, dan organisasi semakin memperhatikan dampak operasional mereka. Populasi yang meningkat pesat berbanding terbalik dengan sumber daya alam yang terus menipis. CEO melihat pendekatan SDGs sebagai peluang untuk menciptakan nilai berkelanjutan dan mengintegrasikannya ke dalam strategi bisnis inti. Standar nilai internasional dan organisasi mendorong integrasi aktivitas keberlanjutan ke dalam inti bisnis.
Keberlanjutan menjadi bagian integral dari operasi bisnis perusahaan besar, tercermin dalam strategi ESG (Environmental, Social, and Governance). Meskipun banyak eksekutif peduli dengan keberlanjutan, implementasinya masih menjadi tantangan. Investor dan konsumen semakin mempertimbangkan kinerja ESG dalam keputusan mereka. Regulasi terkait emisi juga semakin ketat di berbagai negara, termasuk Indonesia yang berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.
Keputusan pembelian konsumen dipengaruhi oleh biaya, namun juga oleh faktor keberlanjutan. Banyak konsumen bersedia membayar lebih untuk produk ramah lingkungan dan memperhatikan dampak sosial. Indonesia memiliki peluang pembiayaan terkait SDGs, dengan peluncuran program untuk mempercepat investasi SDGs. Pemerintah juga menerbitkan obligasi terkait SDGs.
Kontribusi perusahaan terhadap pembangunan berkelanjutan penting, dan pemerintah mendorong peningkatan kinerja lingkungan dan sosial MSMEs. MSMEs memiliki peluang besar untuk mengatasi tantangan lingkungan dan berinovasi. Namun, implementasi praktik bisnis berkelanjutan oleh MSMEs menghadapi keterbatasan dan proses transformasi hijau yang lambat. Dampak sosial seringkali bukan prioritas utama bagi MSMEs.
Penelitian tentang implementasi keberlanjutan oleh MSMEs masih terdapat kesenjangan, sehingga diperlukan lebih banyak penelitian yang kontekstual. Dampak kolektif MSMEs terhadap lingkungan dapat melebihi dampak perusahaan besar. Keberlanjutan memerlukan pengukuran dampak jangka panjang dan pelestarian untuk generasi mendatang.
Di Indonesia, belum ada definisi atau data mengenai MSME berkelanjutan. Pemerintah berencana untuk mulai mengembangkan MSME hijau pada tahun 2025, dengan fokus pada akses pendanaan, peningkatan kapasitas, aksesibilitas teknologi, dan akses pasar.
MSMEs menghadapi hambatan dalam mengadopsi strategi terkait keberlanjutan, termasuk kurangnya teori kelembagaan, manfaat integrasi praktik keberlanjutan, serta kerangka kerja dan pedoman yang jelas. Penelitian tentang keberlanjutan di Asia dan Amerika Latin masih kurang. Diperlukan indeks yang disesuaikan untuk MSMEs dalam menilai praktik keberlanjutan mereka.
Survei menunjukkan minat yang tinggi terhadap praktik bisnis ramah lingkungan di kalangan MSMEs Indonesia. Meskipun demikian, terdapat kesenjangan dalam implementasi keberlanjutan karena fokus pada profitabilitas dan keterbatasan sumber daya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan indeks yang kontekstual untuk MSMEs dalam memeriksa proses bisnis mereka menuju implementasi praktik bisnis berkelanjutan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) mengeksplorasi indikator praktik bisnis berkelanjutan untuk MSME di Indonesia; (2) mengusulkan rekomendasi bagi MSME dalam menerapkan praktik bisnis berkelanjutan. Penelitian ini akan fokus pada entitas yang telah dinominasikan atau mendapatkan penghargaan di bawah SBME (Small Business Management and Entrepreneurship). Lingkup penelitian juga terbatas pada MSME dan menggunakan pendekatan Triple Bottom Line.