Nikel, logam penting dengan berbagai keunggulan seperti ketahanan terhadap korosi dan kemampuan daur ulang, banyak digunakan dalam paduan baja tahan karat dan semakin krusial dalam industri baterai kendaraan listrik (EV) karena isu net zero emission (NZE). Indonesia, dengan cadangan nikel laterit yang melimpah, mengolahnya melalui proses hidrometalurgi untuk menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), yang kemudian dimurnikan menjadi nikel sulfat dan kobalt sulfat sebagai bahan baku katoda baterai ion-litium. Penelitian ini bertujuan untuk memurnikan lebih lanjut larutan MHP yang sudah diproses menggunakan ekstraktan D2EHPA dengan metode Solvent Extraction (SX) bertahap menggunakan Cyanex 272 dan Versatic 10 untuk memisahkan nikel dari pengotor seperti kobalt, mangan, magnesium, dan tembaga, serta menghasilkan kristal nikel sulfat dengan kemurnian tinggi yang memenuhi standar baterai.