Pasar alas kaki global diproyeksikan tumbuh signifikan hingga $725,1 miliar pada tahun 2032, dengan Asia mendominasi produksi dan sepatu atletik menjadi tren utama, meskipun menghadapi tantangan ekonomi dan rantai pasokan. Indonesia merupakan pemain penting di industri ini, menduduki peringkat keempat sebagai produsen dan konsumen, serta ketiga sebagai eksportir alas kaki.
Merek sepatu lokal Indonesia, Piero, yang didirikan pada tahun 1999, menghadapi tantangan bisnis setelah pengalaman sebelumnya dengan *brand ambassador* makro (Adipati Dolken) berhasil meningkatkan asosiasi merek dan kepercayaan *retailer*, namun gagal mendorong penjualan secara signifikan. Di tengah pergeseran ke pemasaran digital yang dipercepat oleh pandemi COVID-19 dan persaingan ketat, Piero kini dihadapkan pada dilema strategis untuk memilih antara *micro* atau *macro digital brand ambassador*. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas kedua jenis *brand ambassador* tersebut terhadap kepercayaan merek, keputusan pembelian, dan citra merek Piero.