Tesis ini mengkaji solusi pendanaan proyek terbaik untuk menstabilkan arus kas, menggunakan Value-Focused Thinking (VFT) dan Analytic Hierarchy Process (AHP). PT Rekadaya Elektrika, anak perusahaan PT PLN Nusantara Power, menghadapi kendala likuiditas di awal tahun 2023, padahal perusahaan ini menandatangani kontrak untuk proyek Terminal LNG Bali yang mendesak dengan durasi 8 bulan dan skema pembayaran tanpa uang muka.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan skema pendanaan proyek terbaik untuk memastikan penyelesaian proyek tepat waktu. Penelitian ini menggunakan pendekatan VFT untuk merumuskan kriteria dan alternatif solusi, dan AHP untuk menentukan solusi pendanaan terbaik.
Melalui wawancara dan brainstorming, lima alternatif pendanaan diidentifikasi: pinjaman pemegang saham dari PT PLN NP, notional pooling PLN Group facility, pinjaman non-tunai PT RE facility, pinjaman non-tunai PT PLN NP facility, dan pinjaman non-tunai PT PLN facility. Kriteria yang dievaluasi termasuk suku bunga, batas kredit, arus kas proyek positif, dan kemudahan proses aplikasi pinjaman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa notional pooling PLN Group facility adalah sumber pendanaan optimal untuk modal kerja dalam proyek Terminal LNG Bali, karena kemudahan proses aplikasi, batas defisit yang memadai, dan arus kas positif yang terjaga. Penelitian ini juga mengembangkan rencana implementasi menggunakan metode 5W1H. Tesis ini menyimpulkan bahwa dengan penerapan AHP notional pooling adalah solusi pendanaan yang optimal untuk proyek strategis dan mendesak.
Rekomendasi untuk implementasi mencakup penarikan dana bertahap, memastikan penyerahan laporan kemajuan tepat waktu, dan menyelaraskan pembayaran vendor dengan pembayaran kemajuan dari pemilik proyek.