Tesis Annisa Fathadina (ITB, 2021) mengevaluasi penggunaan antibiotik empiris dan definitif serta hubungannya dengan luaran terapi pada pasien bedah di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Latar belakang penelitian ini adalah resistensi antibiotik yang menjadi masalah kesehatan global, yang dapat dikendalikan dengan penggunaan antibiotik yang bijak. Penelitian serupa di Indonesia masih terbatas dan seringkali menunjukkan penggunaan yang belum bijak. Studi ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan antibiotik dan dampaknya pada pasien bedah.
Penelitian ini menggunakan desain deskriptif observasional retrospektif data tahun 2019. Evaluasi kuantitatif dilakukan dengan metode ATC/DDD untuk menghitung DDD/100 patient-days, menilai jumlah penggunaan antibiotik. Evaluasi kualitatif menggunakan metode Gyssens untuk menilai kualitas penggunaan antibiotik dan memberikan rekomendasi perbaikan. Hubungan antara ketepatan penggunaan antibiotik dan luaran terapi dianalisis dengan uji Chi-square menggunakan SPSS 23.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seftriakson merupakan antibiotik yang paling banyak digunakan (17,39 DDD/100 patient-days), namun jumlah ini menurun dibandingkan tahun 2015 dan 2016. Evaluasi kualitatif menunjukkan bahwa 46,75% penggunaan antibiotik tepat, sementara 53,25% belum tepat, dengan berbagai kategori masalah penggunaan obat (DRP) menurut Gyssens. Analisis statistik menunjukkan hubungan signifikan antara ketepatan penggunaan antibiotik (empiris dan definitif) dan luaran terapi sembuh (p