Penelitian ini oleh Eko Suwarno bertujuan untuk membuat model konseptual lapangan panas bumi Gunung Rajabasa, Lampung, dengan mengintegrasikan data geologi, geokimia, dan geofisika. Gunung Rajabasa adalah gunung api komposit dengan aktivitas panas bumi yang telah dieksplorasi. Studi geologi menggunakan data LIDAR dan pemetaan permukaan untuk menyusun model geologi. Analisis geokimia air, gas, dan isotop stabil (18O dan 2H) dilakukan untuk memahami asal, tipe, aliran fluida hidrotermal, dan kondisi reservoir. Interpretasi geofisika meliputi analisis kedalaman lapisan konduktif (MT) dan struktur bawah permukaan (data gaya berat). Kompleks vulkanik Gunung Rajabasa terdiri dari Gunung Belirang (andesitik) di selatan dan Gunung Rajabasa (andesitik-riolitik) di utara. Manifestasi permukaan meliputi mata air panas, kaipohan (utara), fumarol, dan geyser (selatan). Air klorida yang setimbang sebagian keluar di mata air panas Gunung Botak dan Merpati, namun bercampur dengan air laut (10-20%). Mata air panas lainnya bertipe SO4, SO4HCO3, dan HCO3Cl yang tidak setimbang. Sistem panas bumi terbagi menjadi sistem utara (Gunung Rajabasa) dan selatan (Gunung Belirang). Terdapat empat reservoir: Pangkul Selatan, Way Merak Selatan, Gunung Botak Selatan (220-270°C, 800-1000 m), dan Kalianda Utara (180°C, 1000-1300 m). Model konseptual ini penting untuk pemahaman dan pengembangan lapangan panas bumi Gunung Rajabasa.