Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan cangkang telur ayam broiler sebagai bahan aktif dalam sediaan krim tabir surya. Penelitian ini meliputi beberapa tahapan, dimulai dari persiapan bahan baku, reduksi ukuran partikel cangkang telur hingga skala nano, pembuatan nanosuspensi, karakterisasi nanopartikel, formulasi sediaan krim, evaluasi stabilitas fisik dan kimia sediaan, uji iritasi pada kelinci, dan penentuan faktor perlindungan surya (FPS).
Bahan-bahan yang digunakan meliputi cangkang telur ayam broiler, VCO, berbagai jenis surfaktan (Tween 80, Span 80, SLS), emolien (setostearil alkohol, asam stearat, lanolin), humektan (propilen glikol), polimer (PVP K21), pengawet (metil paraben, propil paraben), antioksidan (vitamin E asetat), serta bahan pelengkap lainnya.
Alat-alat yang digunakan meliputi berbagai jenis mesin penghancur dan penggiling (cutting mill, mortar grinder, ball mill), alat pengayak, oven, sonikator, particle size analyzer, mikroskop elektron (SEM), difraktometer sinar-X, xenon test chamber, dan alat-alat laboratorium standar lainnya.
Cangkang telur dibersihkan, dikeringkan, dipotong, direndam dalam asam klorida untuk menghilangkan mineral, dinetralkan, dan dikeringkan kembali. Ukuran partikel kemudian direduksi melalui serangkaian proses pemotongan, penggerusan, dan penggilingan dengan ball mill hingga mencapai ukuran nano. Nanosuspensi dibuat dengan sonikasi.
Karakterisasi nanopartikel meliputi analisis ukuran partikel menggunakan particle size analyzer, pengamatan morfologi dengan SEM, dan analisis kristalinitas dengan difraktometer sinar-X.
Formula krim dioptimasi dengan memvariasikan jenis dan konsentrasi emulgator serta jumlah nanosuspensi cangkang telur. Sediaan krim dibuat dengan mencampurkan fase minyak dan fase air pada suhu tertentu, diikuti dengan penambahan bahan tambahan dan pengadukan menggunakan ultraturax.
Evaluasi sediaan krim meliputi pengamatan organoleptik (bau, warna, pertumbuhan jamur), pengukuran pH, viskositas, dan uji stabilitas fisik (freeze-thaw dan penyimpanan dipercepat).
Uji iritasi dilakukan pada punggung kelinci dengan mengamati eritema dan udem selama 72 jam untuk menentukan indeks iritasi.
Nilai FPS ditentukan dengan mengukur energi radiasi minimal yang menyebabkan eritema pada kulit kelinci yang diolesi dan tidak diolesi sediaan, kemudian membandingkan keduanya. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan formula krim tabir surya yang stabil, aman, dan efektif melindungi kulit dari radiasi UV dengan memanfaatkan limbah cangkang telur.