Penelitian oleh Muhammad Hanif Gusman (2016) dari Institut Teknologi Bandung ini berfokus pada peningkatan kualitas limbah tandan kosong kelapa sawit (TKS) sebagai bahan bakar padat bersih. TKS merupakan limbah padat terbesar dari perkebunan kelapa sawit, namun kandungan air dan abu yang tinggi membuatnya tidak dapat langsung digunakan sebagai bahan bakar. Kadar air tinggi menurunkan nilai kalor, sementara kadar abu tinggi menyebabkan masalah *slagging* dan *fouling* pada tungku pembakaran.
Untuk mengatasi masalah ini, digunakan teknologi torefaksi basah, sebuah proses dekomposisi kimiawi menggunakan air subkritik pada suhu dan tekanan tinggi. Tujuan penelitian adalah menghasilkan bahan bakar padat dengan nilai kalor atas (HHV) tertinggi dan kadar abu terendah, serta mereduksi potensi *slagging* dan *fouling*.
Penelitian dilakukan pada skala laboratorium dan pilot, dengan variasi suhu (150-225°C), rasio biomassa terhadap air (1:3 hingga 1:5), dan waktu tinggal (30-90 menit). Pengujian HHV menggunakan kalorimeter bom adiabatik, dan komposisi abu dianalisis dengan EDS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk padatan torefaksi basah mengalami peningkatan HHV hingga 16,12%, penurunan kadar abu hingga 70,24%, serta penurunan potensi *slagging* dan *fouling* dibandingkan bahan baku. Dengan demikian, torefaksi basah terbukti cocok untuk meningkatkan kualitas TKS. Parameter operasi optimal yang diidentifikasi adalah suhu 175°C, waktu tinggal 30 menit, dan rasio biomassa terhadap air 1:3, karena menghasilkan HHV tertinggi, kadar abu terendah, dan potensi *slagging/fouling* yang minimal, baik untuk skala laboratorium maupun pilot.