Teks ini merupakan bab penutup dari penelitian mengenai analisis daya saing pariwisata di Bandung, dengan fokus pada TWA Gunung Tangkuban Parahu dan Kawah Putih. Bab ini mencakup temuan, kesimpulan, rekomendasi pengembangan, kelemahan studi, dan saran untuk penelitian lanjutan.
**Temuan Studi:**
* Profil wisatawan di kedua destinasi tidak berbeda signifikan, namun ada perbedaan pada pendapatan/pengeluaran (Tangkuban Parahu lebih besar), waktu kunjungan terakhir (Tangkuban Parahu 2016, Kawah Putih 2015), dan status kunjungan (Tangkuban Parahu didominasi pengunjung baru, Kawah Putih pengunjung berulang).
* Persepsi wisatawan terhadap tingkat daya saing menunjukkan Kawah Putih dinilai lebih baik dalam keragaman aktivitas, hiburan, kelengkapan pendukung, kebersihan, dan fasilitas publik dibandingkan Tangkuban Parahu yang cenderung netral.
* Analisis daya saing (CM) menunjukkan Kawah Putih lebih berdaya saing daripada Tangkuban Parahu, meskipun jumlah kunjungan wisatawan ke Tangkuban Parahu jauh lebih tinggi. Hal ini dijelaskan dengan model TALC, di mana Tangkuban Parahu berada pada tahap stagnasi dan Kawah Putih pada tahap konsolidasi, menunjukkan bahwa tingginya jumlah kunjungan tidak selalu berkorelasi langsung dengan tingkat daya saing.
* Strategi pengembangan dirumuskan berdasarkan RKPD Provinsi Jawa Barat 2015 dengan pendekatan pariwisata terpadu (integrated tourism).
**Kesimpulan:**
* Penelitian ini menyimpulkan bahwa Kawah Putih lebih berdaya saing dan unggul dibandingkan TWA Gunung Tangkuban Parahu dalam sebagian besar dari delapan variabel yang dikaji (fisiografi dan iklim, budaya dan sejarah, aktivitas kegiatan, acara khusus, hiburan, suprastruktur, infrastruktur), kecuali pada variabel ikatan pasar (market ties) di mana Tangkuban Parahu sedikit lebih unggul.
* Perbedaan utama terlihat pada kepuasan daya tarik wisata alam (Kawah Putih lebih unggul), keragaman dan perbedaan acara/event, serta keragaman jenis hiburan (Kawah Putih lebih unggul). Sementara itu, Tangkuban Parahu lebih unggul dalam tingkat kenyamanan iklim. Kedua destinasi dinilai sama-sama baik dalam keindahan alam dan orisinalitas, serta komunikasi dan keramahan masyarakat.
**Rekomendasi:**
Rekomendasi pengembangan untuk TWA Gunung Tangkuban Parahu, dengan Kawah Putih sebagai acuan, mencakup:
* **Fisiografi & Iklim:** Pengembangan dan pemeliharaan daya tarik alam, serta pengembangan flora dan fauna endemik.
* **Budaya & Sejarah:** Pengembangan promosi pariwisata untuk acara khusus.
* **Aktivitas Kegiatan:** Optimalisasi aktivitas yang belum berkembang, pengemasan produk dan integrasi dengan DTW lain, serta membuat transportasi "ontang-anting" lebih merepresentasikan ikon wisata.
* **Acara Khusus:** Penataan dan pengembangan mega event (Festival Tangkuban Parahu, Festival Kawah Putih).
* **Hiburan:** Penyelenggaraan mini festival sebelum acara khusus.
* **Suprastruktur:** Pengembangan fasilitas interpretasi daya tarik dan peningkatan kualitas jaringan jalan.
* **Ikatan Pasar:** Pemberdayaan masyarakat lokal, peningkatan kualitas SDM pariwisata, serta penguatan komunitas dan kelembagaan.
* **Infrastruktur:** Pengembangan kebutuhan prasarana wisata dan pembenahan jalan.
**Kelemahan Studi:**
* Data kuesioner wisatawan berasal dari tahun kunjungan yang berbeda (Tangkuban Parahu 2016, Kawah Putih 2015), menyebabkan perbedaan pandangan.
* Penelitian hanya fokus pada dua dari lima aspek penentu daya saing pariwisata.
* Ketiadaan perencanaan detail di tingkat kawasan, sehingga landasan strategi hanya mengacu pada dokumen perencanaan tingkat provinsi/kabupaten.
* Keterbatasan stakeholder yang dilibatkan (hanya pengelola, swasta, masyarakat), mengabaikan akademisi dan media yang merupakan bagian dari model pentahelix.
**Saran Studi Lanjutan:**
* Mengkaji keseluruhan aspek faktor penentu daya saing di kedua destinasi.
* Melakukan studi mengenai perencanaan detail di tingkat kawasan.
* Mengkaji dampak pariwisata dilihat dari daya saing di kedua destinasi.