Tesis ini melakukan evaluasi ekonomi rezim fiskal (Kontrak Bagi Hasil/PSC dan Gross Split) terhadap implementasi Enhanced Oil Recovery (EOR), khususnya *Low Salinity Water Injection* (LSWI), di industri hulu minyak dan gas Indonesia. Tujuannya adalah membandingkan profitabilitas LSWI menggunakan PSC dan Gross Split dengan proyek *waterflooding* konvensional (WF) di Lapangan X.
Penelitian ini mensimulasikan empat skenario di Lapangan X selama 5 tahun: kasus dasar (tanpa injeksi), WF konvensional (salinitas 25000 ppm), LSWI 1 (salinitas 1000 ppm), dan LSWI 2 (salinitas 2000 ppm). Kinerja ekonomi dievaluasi menggunakan *Net Present Value* (NPV) di bawah skema PSC dan Gross Split, diikuti dengan analisis sensitivitas terhadap CAPEX, OPEX, produksi minyak, dan harga minyak.
**Hasil utama menunjukkan bahwa:**
1. **Di bawah skema PSC**, semua proyek EOR/WF (WF, LSWI 1, LSWI 2) menghasilkan NPV yang lebih rendah dibandingkan kasus dasar, menunjukkan kurangnya keuntungan bagi kontraktor.
2. **Di bawah skema Gross Split**, proyek LSWI 1 dan LSWI 2 memiliki NPV yang lebih tinggi dibandingkan kasus dasar dan WF (LSWI 1 meningkat 3,28% dan LSWI 2 meningkat 2,52% dibandingkan kasus dasar).
3. **Kesimpulan Profitabilitas:** Implementasi LSWI menggunakan skema Gross Split terbukti lebih menguntungkan daripada PSC. Ini disebabkan oleh insentif (tambahan persentase *split*) yang diberikan oleh Gross Split untuk implementasi EOR, serta efisiensinya dalam penanganan pemulihan biaya dibandingkan PSC dalam skenario produksi rendah.
4. **Analisis Sensitivitas:** Dalam skema PSC, produksi minyak dan harga minyak adalah parameter paling berpengaruh terhadap NPV. Sementara itu, dalam skema Gross Split, produksi minyak adalah yang paling berpengaruh, diikuti oleh harga minyak (meskipun harga minyak kurang berpengaruh karena mekanisme penyesuaian *split* progresif).
Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa skema Gross Split lebih mendukung dan menguntungkan bagi kontraktor untuk implementasi EOR di lapangan tua Indonesia dibandingkan skema PSC, berkat insentif ekonomi yang ditawarkannya.