Path: Top » IndonesiaDLN » Muhamadiyah » JIPTUMM » S1-Final_Project » Dept._of_Agriculture » Agribusines » 2002 » odd_semester

ANALISA KOMPARASI USAHATANI CABAI MERAH DENGAN PESTISIDA ORGANIK DAN PESTISIDA NON ORGANIK( Studi Kasus di Desa Bocek, Kecamatan Karang Ploso,Kabupaten Malang )

Undergraduate Theses from JIPTUMM / 2003-02-06 12:33:00
Oleh : Rina Madiyawati (98720074), Dept. of Agribusiness
Dibuat : 20002-12-2, dengan 1 file

Keyword : USAHATANI, CABAI MERAH, PESTISIDA ORGANIK, PESTISIDA NON ORGANIK, Rina

Pertanian organik nampaknya akan menjadi pertanian alternatif abad ke 21. Prospek ekonomi dari pertanian ini cukup baik seiring berubahnya pola konsumsi manusia, dimana manusia lebih memilih makanan yang sehat meskipun harga relatif mahal. Seiiring dengan kemajuan zaman, rekayasa bioteknologi dan banyaknya tuntutan mengenai pertanian yang ramah lingkungan. Penggunaan bahan kimia selama ini telah banyak menimbulkan permasalahan yang berkaitan dengan tingkat produksi, pendapatan petani dan tak kalah pentingnya adalah kerusakan lingkungan hidup. Penggunaan pestisida organik merupakan salah satu penyelesaian masalah yang timbul akibat penggunaan bahan kimia.

Sistem pertanian organik adalah suatu sistem produksi pertanian dimana dalam penerapannya menggunakan bahan-bahan organik, baik dalam hal pemupukan maupun dalam pemberantasan hama dan penyakit tanaman. Pasar holtikultura di dunia yang mensyaratkan mutu tinggi memang bisa ditembus hasil pertanian organik. Menurut Emma (1999) bahwa sayuran organik memang lebih bersih dan sehat lantaran tidak tercemar pestisida. Mengingat betapa pentingnya sayuran dalam memenuhi kebutuhan manusia khususnya cabai, maka cabai merupakan komoditas holtikultiura penting di Indonesia yang tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan sehari-hari dalam konsumsi rumah tangga tanpa membedakan tingkat sosial.

Adapun tujuannya : (1) Untuk mengetahui berapa besar biaya, penerimaan, pendapat per hektar pada usahatani cabai merah dengan pestisida organik dan pestisida non organik. (2) Untuk membandingkan apakah usahatani cabai merah dengan pestisida organik lebih efisien dilakukan daripada pestisida non organik.

Hipotesa: (1) Diduga rata-rata pendapatan dan penerimaan tiap hektar pada usahatani cabai merah dengan pestisida organik lebih besar daripada pestisida non organik. (2) Diduga bahwa usahatani cabai merah dengan pestisida organik lebih efisien ditinjau dari segi input- output rasio dibandingkan dengan pestisida non organik.

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Bocek, Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang. Pengambilan sampel dilakukan secara kebetulan (accident sampling). Data yang dikumpulkan adalah data primer yang diperoleh dari wawancara dan data sekunder yang diperoleh dari catatan instansi yang terkait dengan penelitian ini.

Dari hasil analisa besarnya biaya rata-rata per hektar pada usahatani cabai merah dengan pestisida organik sebesar Rp 12.560.840,00 dan Pestisida non organik sebesar Rp 13.076.203,00. Besarnya pendapatan rata-rata per hektar pada usahatani cabai merah dengan pestisisida organik sebesar Rp 26.940.810,00 dan pestisida non organik sebesar Rp 9.190,666,00. Sedangkan besarnya penerimaan rata-rata per hektar pada usahatani cabai merah dengan pestisida organik sebesar Rp 39.501.650,00 dan pestisida non organik sebesar Rp 22.266.869,00.

Dengan menggunakan uji t pada taraf kepercayaan 95% menunjukan bahwa rata-rata biaya pada usahatani cabai merah dengan pestisida organik dan pestisida non organik tidak berbeda nyata. Sedangkan rata-rata penerimaan dan pendapatan pada usahatani cabai merah dengan pestisida organik dan pestisida non organik ber beda nyata.

Besarnya R/C rasio pada usahatani cabai merah dengan pestisida organik sebesar 3,145 dan pestisida non organik sebesar 1,750. Berarti usahatani cabai merah dengan pestisida organik dan pestisida non organik menguntungkan atau layak diusahakan. Hasil pengujian hipotesa dengan uji t pada taraf kepercayaan 95% diperoleh bahwa rata-rata efisiensi pada usahatani cabai merah dengan pestisida organik dan pestisida non organik tidak berbeda nyata.

Deskripsi Alternatif :

Pertanian organik nampaknya akan menjadi pertanian alternatif abad ke 21. Prospek ekonomi dari pertanian ini cukup baik seiring berubahnya pola konsumsi manusia, dimana manusia lebih memilih makanan yang sehat meskipun harga relatif mahal. Seiiring dengan kemajuan zaman, rekayasa bioteknologi dan banyaknya tuntutan mengenai pertanian yang ramah lingkungan. Penggunaan bahan kimia selama ini telah banyak menimbulkan permasalahan yang berkaitan dengan tingkat produksi, pendapatan petani dan tak kalah pentingnya adalah kerusakan lingkungan hidup. Penggunaan pestisida organik merupakan salah satu penyelesaian masalah yang timbul akibat penggunaan bahan kimia.

Sistem pertanian organik adalah suatu sistem produksi pertanian dimana dalam penerapannya menggunakan bahan-bahan organik, baik dalam hal pemupukan maupun dalam pemberantasan hama dan penyakit tanaman. Pasar holtikultura di dunia yang mensyaratkan mutu tinggi memang bisa ditembus hasil pertanian organik. Menurut Emma (1999) bahwa sayuran organik memang lebih bersih dan sehat lantaran tidak tercemar pestisida. Mengingat betapa pentingnya sayuran dalam memenuhi kebutuhan manusia khususnya cabai, maka cabai merupakan komoditas holtikultiura penting di Indonesia yang tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan sehari-hari dalam konsumsi rumah tangga tanpa membedakan tingkat sosial.

Adapun tujuannya : (1) Untuk mengetahui berapa besar biaya, penerimaan, pendapat per hektar pada usahatani cabai merah dengan pestisida organik dan pestisida non organik. (2) Untuk membandingkan apakah usahatani cabai merah dengan pestisida organik lebih efisien dilakukan daripada pestisida non organik.

Hipotesa: (1) Diduga rata-rata pendapatan dan penerimaan tiap hektar pada usahatani cabai merah dengan pestisida organik lebih besar daripada pestisida non organik. (2) Diduga bahwa usahatani cabai merah dengan pestisida organik lebih efisien ditinjau dari segi input- output rasio dibandingkan dengan pestisida non organik.

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Bocek, Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang. Pengambilan sampel dilakukan secara kebetulan (accident sampling). Data yang dikumpulkan adalah data primer yang diperoleh dari wawancara dan data sekunder yang diperoleh dari catatan instansi yang terkait dengan penelitian ini.

Dari hasil analisa besarnya biaya rata-rata per hektar pada usahatani cabai merah dengan pestisida organik sebesar Rp 12.560.840,00 dan Pestisida non organik sebesar Rp 13.076.203,00. Besarnya pendapatan rata-rata per hektar pada usahatani cabai merah dengan pestisisida organik sebesar Rp 26.940.810,00 dan pestisida non organik sebesar Rp 9.190,666,00. Sedangkan besarnya penerimaan rata-rata per hektar pada usahatani cabai merah dengan pestisida organik sebesar Rp 39.501.650,00 dan pestisida non organik sebesar Rp 22.266.869,00.

Dengan menggunakan uji t pada taraf kepercayaan 95% menunjukan bahwa rata-rata biaya pada usahatani cabai merah dengan pestisida organik dan pestisida non organik tidak berbeda nyata. Sedangkan rata-rata penerimaan dan pendapatan pada usahatani cabai merah dengan pestisida organik dan pestisida non organik ber beda nyata.

Besarnya R/C rasio pada usahatani cabai merah dengan pestisida organik sebesar 3,145 dan pestisida non organik sebesar 1,750. Berarti usahatani cabai merah dengan pestisida organik dan pestisida non organik menguntungkan atau layak diusahakan. Hasil pengujian hipotesa dengan uji t pada taraf kepercayaan 95% diperoleh bahwa rata-rata efisiensi pada usahatani cabai merah dengan pestisida organik dan pestisida non organik tidak berbeda nyata.


Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJIPTUMM
OrganisasiDept. of Agribusiness
Nama KontakNasar
AlamatJl. Raya Telogomas No. 246
KotaMalang
DaerahJawa Timur
NegaraIndonesia
Telepon+62-341-464318 ext 151
Fax
E-mail Administratorroot@digilib.umm.ac.id
E-mail CKOdigilib@umm.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Editor: infopus@jiptumm