Path: Top > S2-Theses > Industrial Engineering and Management-FTI > 1999

KAJIAN TENTANG KEBERHASILAN KEBIJAKAN KEMITRAAN USAHA BESAR-MENENGAH-KECIL - Pengembangan Metodologi Evaluasi Kebijakan dan Penerapannya pada Program Tebu Rakyat Intensifikasi

Master Theses from JBPTITBPP / 2017-09-27 14:50:32
Oleh : Wijanto Hadipuro (NIM 234 96 036), S2 - Industrial Engineering and Management
Dibuat : 1999-01-00, dengan 13 file

Keyword : alliances, industrial policies, large-medium-small enteprise.
Kepala Subjek : Engineering
Nomor Panggil (DDC) : T 658.042 HAD

Abstrak :


Penelitian ini memfokuskan diri pada kemitraan usaha besar, menengah dan kecil yang terjadi karena adanya intervensi dari pemerintah.


Dari penelusuran terhadap Lembaran dan Berita Negara ditemukan sembilan jenis kebijakan yang diambil pemerintah untuk mendorong terjadinya kemitraan antara usaha besar dan menengah di satu pihak dengan usaha kecil di lain pihak, yang bisa dikelompokkan menjadi


koperasi, program penanggalan, inti-plasma, modal ventura, bapak angkat, tata niaga, kepemilikan saham perusahaan besar oleh koperasi, waralaba, dan kredit bersubsidi.


Content analysis terhadap berbagai landasan hukum dan instrumen kebijakan kemitraan usaha besar, menengah dan kecil tersebut di atas menunjukkan bahwa tujuan yang dinyatakan secara abstrak tidak punya benang merah antara satu kebijakan dengan kebijakan lainnya, dan tidak ada penjabaran tujuan ke dalam berbagai ukuran keberhasilan yang bisa diukur. Sebagai akibatnya tidak bisa diukur tingkat keberhasilan kebijakan dan tidak bisa diperbandingkan keberhasilan kebijakan satu dengan yang lainnya.


Dengan mempergunakan metode Proses Hirarki Analitik, penelitian memberikan suatu usulan tentang pembuatan alat evaluasi kebijakan dengan kriteria dan sub kriteria yang dikembangkan dari landasan teoritik dan disarikan dari gabungan tujuan kebijakan yang terdapat di landasan hukum.


Pendapat para pejabat lembaga yang terlibat dalam kebijakan memperlihatkan bahwa pada hirarki tingkat pertama, menumbuhkan unit usaha yang tangguh dan mandiri ternyata dinilai merupakan kriteria terpenting (dengan bobot 0,587) disusul kriteria kesejahteraan (0,207), pemerataan (0,109) dan pertumbuhan (0,097).


Suatu unit usaha disebut tangguh dan mandiri bila mampu memberikan QCD terbaik bagi konsumennya, menghasilkan produktivitas faktor input dan nilai tambah yang tinggi dibandingkan dengan usaha sejenis. Pada hirarki kedua ini QCD mendapatkan bobot tertinggi (0,572). Hal ini sesuai dengan kenyataan sekarang bahwa arus globalisasi membuat peran konsumen menjadi penting. Pada peringkat kedua adalah kenaikan produktivitas dengan bobot 0,283 dan terakhir kenaikan nilai tambah dengan bobot (0,145).


Untuk kriteria kesejahteraan, ternyata kenaikan daya beli pekerja mendapatkan bobot lebih tinggi (0,786) dibandingkan dengan kenaikan penerimaan pajak pemerintah (0.214).


Sedangkan untuk kriteria pertumbuhan, pertumbuhan penyerapan kerja mendapatkan bobot 0,717 dibandingkan pertumbuhan volume usaha yang hanya mendapatkan bobot 0,283.


Keberpihakan dan prioritas bahwa yang akan menjadi tulang punggung perekonomian tercermin pada kenyataan bahwa usaha kecil mendapatkan bobot lebih tinggi dibandingkan dengan usaha besar-menengah, kecuali dalam penerimaan pajak pemerintah karena sistem perpajakan yang dipakai adalah sistem progresivitas).


Dari kelompok biaya ternyata biaya dari swasta dianggap sebagai yang terpenting (bobot 0,318), disusul dari BUMN (0,285), dari pemerintah berupa potongan pajak dan pemberian subsidi (0,269) dan terakhir biaya dari masyarakat (0.127). Biaya dari swasta dianggap paling bisa dipertanggungjawabkan dan bisa mendatangkan hasil guna terbesar.


Aplikasi alai ukur pada program Tebu Rakyat Intensifikasi, dimana petani tebu rkyat bermitra dengan pabrik gula menunjukkan bahwa ternyata selama periode 1990-1993 telah terjadi penurunan performansi usaha kecil, dalam hal ini petani tebu, dan kenaikan performansi pabrik gula; dan jugs ternyata terjadi penurunan rasio indeks manfaat dan biaya kemitraan dibandingkan dengan performansi periode 1983-1990.


Program Tebu Rakyat Intensifikasi yang sangat ketat regulasinya membuktikan bahwa regulasi pemerintah tidak mampu memberdayakan usaha kecil dalam hal ini petani tebu dan memberilcan legitimasi bagi pabrik gula sebagai usaha besar untuk mendapatkan keuntungan dari kebijakan kemitraan.

Deskripsi Alternatif :

Abstract :


The focus of this study is the alliances between large and medium enterprise with small enteprise due to the intervention from government through its industrial policies.


There are nine forms of regulation on inducing the cooperation between large and medium with small enterprises, i.e. : cooperative economic enterprises, deletion programs, core-satellite model, venture capital, foster-father business partner linkage programs, regulations on certain commodities, the sale of shares of large enteprises to cooperatives, franchise regulation, and subsidized credit programs.


Content analysis on the regulations above shows that each regulation has its own objective without any goals to specify the objectives. This fact makes it difficult to evaluate the success of the regulations and to compare the success of each program in a certain regulation with other programs.


To solve the problem, this study proposes a successful criteria that can be used across regulations using Analytic. Hirarchy Process with criterias and sub criterias developed from both theoritical background and summary of the essence of the regulations objectives.


Five officials from five institutions in charge of delievering and evaluating of the regulations above, gave their opinions on the weight of each criterias and sub criterias used.


The result is that the most important thing is that how a certain regulation could produce an alliance that is competitive in its nature. This criteria is weighted by 0.587; followed by welfare criteria (0.207), equality distributive criteria (0.109), and growth criteria (0.097).


An aliance is said to be competitive in its nature if it could deliver the best QCD to its customers among its competitors, produce a high raise on productivity of its input factors, and produce a high raise added value. Among the sub criterias above, delivering the best QCD gets 0.572, and a raise on productivity gets 0.283 and for a raise on added value gets 0.145. This is in accordance with the fact that consumer is the most important thing in this global market.


For welfare criteria, it is more important for the alliances to raise the purchasing power of its workers (0.786) than the taxes received by government from the alliances (0.214).


It is also more important from the stand point of growth that the aliances could give a better employment to their society (0.717) than growth of their sales volume (0.283).


In accordance with the fact that small enterprises are getting more and more important position in the economy, all the weights for small enteprises are bigger than that of large and medium enteprises except in taxes - because system used for taxes is a progresive taxation.


From the point of view of responsibility of the cost used for the alliances, cost from large private enteprises gets the biggest weight (0,318), folowed by cost from BUMN (0.285), cost from goverment in the form of tax reduction and subsidy (0.269), and the cost from society gets the lowest weight (0.127).


The evaluation instrument above is applied to the alliance between farmers and manufacturers of granulated sugar in Tebu Rakyat Intensifikasi program - one of core-satellite model alliances. The study shows that there is a decline in farmers performance for all criterias and a raise in core companies performance for all criterias. The evaluation instrument proposed also shows that the benefit-cost ratio indexes for the alliance between the two was declining during the period of the study that is 1983 - 1990 and 1990 - 1993.


Tebu Rakyat Intensifikasi program which is very regulated could be one of the proof that not all government interventions could raise the small enterprises I,.;rfonnance as the objectives wish. This regulation legitimates the core companies to make better fortune out of their satellites.

Copyrights : Copyright (c) 1999 by Fakultas Teknologi dan Industri.


Information Dissemination Right @2008 ITB Central Library, Jl. Ganesha 10 Bandung,40132, Indonesia.


Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author to ITB Central Library in any medium, provided this notice is preserved.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id