Path: Top > S3-Dissertations > Engineering Science > 2011

MODEL PERSEDIAAN PENYANGGA UNTUK MENJAMIN KETERSEDIAAN DAN KESTABILAN HARGA KOMODITAS POKOK YANG BERSIFAT MUSIMAN

PhD Theses from JBPTITBPP / 2015-03-12 11:27:33
Oleh : WAHYUDI SUTOPO (NIM: 33407001) ; Pembimbing Prof. Dr. Ir. Senator Nur Bahagia, S3 - Engineering Sciences
Dibuat : 2011, dengan 8 file

Keyword : disparitas pasokan, fluktuasi harga, intervensi pasar, pemangku kepentingan, persediaan penyangga, stabilisasi harga, sistem resi gudang

Bahan kebutuhan pokok masyarakat (BKPM) yang diproduksi dari hasil



pertanian, sebagai contoh komoditi gula pasir, memiliki disparitas pasokan yang



sangat mencolok antara musim tanam dan musim panen. Disparitas pasokan



tersebut dapat menyebabkan kelangkaan dan fluktuasi harga sehingga



menimbulkan kerugian bagi produsen, pedagang, dan konsumen. Pada studi kasus



distribusi gula pasir di Indonesia, ditemukan tiga faktor utama penyebab masalah



tersebut. Pertama, jumlah pasokan domestik tidak naik secara signifikan akan



tetapi permintaan terus menerus naik. Kedua, terdapat perbedaan jumlah pasokan



yang sangat signifikan antara musim panen ketika pabrik gula menggiling tebu



dan musim tanam ketika petani menanam tebu. Ketiga, harga komoditas di pasar



global lebih murah jika dibandingkan dengan harga domestik sehingga pasokan



dari pasar global menyebabkan harga di level produsen turun.



Jika masalah disparitas pasokan dan fluktuasi harga tidak diredam, situasi tersebut



dapat menimbulkan masalah pangan yang kompleks dan berdampak pada



kerawanan sosial dan politik. Di sisi lain, pemerintah berkewajiban menjamin



produsen agar terhindar dari distorsi harga jual dan mewujudkan ketahanan



pangan yaitu terpenuhinya pangan pada harga yang terjangkau bagi konsumen.



Fenomena masalah ini dapat diredam pemerintah melalui kebijakan intervensi



pasar. Skema persediaan penyangga (SPP) dapat digunakan sebagai instrumen



untuk mengendalikan pasokan ke pasar agar harga stabil dan kebutuhan terpenuhi.



Untuk itu, penelitian ini membahas permasalahan tentang bagaimana cara



menentukan SPP sebagai instrumen program intervensi pasar bagi pemerintah



dalam rangka menjamin ketersediaan dan kestabilan harga komoditas pokok yang



bersifat musiman.



Model-model tentang ketersediaan dan kestabilan harga komoditas pokok dengan



menggunakan SPP telah banyak dikembangkan pada penelitian terdahulu. Dari



kajian literatur dapat disimpulkan bahwa: (i) metode optimisasi telah digunakan



untuk menentukan tingkat ketersediaan persediaan penyangga guna menjamin



pemenuhan kebutuhan dari jumlah dan waktu pengadaan; (ii) metode ekonometrik



telah digunakan untuk meredam harga dengan menggunakan jumlah dan harga



persediaan penyangga; (iii) program intervensi pada umumnya hanya



iii



mempertimbangkan harapan produsen atau konsumen, dan (iv) pada umumnya



kebijakan pengelolaan SPP hanya melibatkan program pengadaan dan



penyimpanan. Dengan pernyataan lain, model-model terdahulu belum melibatkan:



(i) opsi kebijakan yang mempertimbangkan harapan pemangku kepentingan, (ii)



pengelolaan SPP yang terdiri dari program perencanaan, pengadaan,



penyimpanan, dan pengeluaran, dan (iii) sistem intervensi yang memungkinkan



pelaku intervensi sebagai pemain pasar.



Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan opsi kebijakan saluran distribusi



bagi pemangku kepentingan sistem distribusi dan mengembangkan model



matematis sebagai alat bantu menyusun kebijakan intervensi pasar. Penelitian ini



menghasilkan opsi kebijakan saluran distribusi dan Model SPP. Alternatif



kebijakan intervensi terdiri dari intervensi langsung (direct market



intervention/DMI) melalui operasi pasar dan intervensi tidak langsung (indirect



market intervention/IMI) melalui fasilitas sistem resi gudang (SRG). Berdasarkan



kebijakan DMI dan IMI tersebut selanjutnya dikembangkan model matematis



yang terdiri dari tiga model DMI yaitu Model I-a, I-b, dan I-c dan tiga model IMI



yaitu Model II-a, II-b, dan II-c. Model DMI merupakan problema NLP yang dapat



dipecahkan dengan algoritma sequential linear programming (SLP). Sedangkan



Model IMI merupakan problema MINLP dengan kategori NP-hard dimana solusi



dicari dengan menggunakan metode enumerasi dan algoritma SLP.



Dibandingkan model terdahulu, Model DMI dan IMI berlaku pada kondisi umum



dalam hal: (i) tersedianya opsi kebijakan intervensi dan opsi saluran distribusi,



(ii) luaran model dapat digunakan untuk pengelolaan SPP yang terdiri dari



program perencanaan, pengadaan, penyimpanan, dan pengeluaran; (iii) opsi



kebijakan IMI memungkinkan pelaku intervensi secara proaktif sebagai pemain



pasar. Dari analisis numerik dan analitis terbukti bahwa model dapat digunakan



untuk menentukan tingkat ketersediaan, batasan harga produsen, batasan harga



konsumen, jumlah impor, dan menyelesaikan masalah SPP. Dari analisis Model



DMI dapat disimpulkan bahwa: (i) dampak dari operasi pasar dapat dinikmati oleh



produsen dan konsumen secara langsung dan (ii) operasi pasar dapat



mengendalikan perilaku spekulan secara langsung. Dari Model IMI dapat



disimpulkan bahwa intervensi dengan fasilitas SRG tidak dibutuhkan modal yang



besar. Pelaku intervensi yaitu badan layanan umum penyangga pangan (BLUPP)



dapat secara proaktif sebagai pelaku pasar sepanjang periode.



Kontribusi utama hasil penelitian ini pada bidang kajian sistem inventori dan



distribusi adalah: (i) mengintegrasikan pendekatan model ekonomi dengan model



optimisasi untuk penentuan SPP, (ii) mengembangkan Model SPP dengan



mempertimbangkan kebijakan intervensi pasar, dan (iii) mengembangkan model



kebijakan intervensi pasar melalui suatu agen pemerintah yang secara proaktif



sebagai pemain pasar.

Deskripsi Alternatif :

Staple food which is produced from agro-industry, for example sugar has a salient



supply disparity during the harvest season and planting season. This situation



causes scarcity and price fluctuation. Moreover, it will bring disadvantages to the



stakeholders such as producer, wholesaler, and consumer. A case study about the



sugar distribution in Indonesia has found three main reasons which cause those



problems. First, the domestic supply does not increase significantly whereas the



demand raises continously. Second, there is a significant disparsity of supply



between the harvest season and planting season. Third, the price of commodity in



a global market is lower than domestic market, so it is possible to harm the



producer selling price.



If the disparity of supply and price fluctuation can not be alleviated, it may initiate



a complex food problem and trigger social and political crisis. On the other hand,



government has obligation to protect the producer from selling price distortion



and to realize the food sustainability for consumer with a reasonable price. This



phenomenon could be solved through implementation of market intervention



policy. A buffer stocks scheme could be used as an instrument to control the



supply to the markets so that the price will be stabilized and the consumption can



be ensured. This paper will discuss the problem on how to determine buffer stocks



scheme as an instrument in market intervention program for government to keep



the price stabilization and staple food availability.



There were many models about price stabilization of staple food that had been



developed. Based on literature study, there are some conclusions as follow: (i) an



optimization method has been applied to determine the buffer stocks level in



guaranting the fulfillment of needs consist of quantity and time; (ii) an



econometrics method has been implemented to alleviate the price fluctuation by



using the quantity and price of buffer stocks; (iii) generally, the intervention



programs only consider producer or consumer expectation; (iv) generally, the



organization of buffer stocks scheme only consists of procurement and storaging



programs. In another words, the previous models disregarded the following



aspects: (i) policies that consider the expectation of stakeholders; (ii) management



of buffer stocks scheme consists of planning, procuring, storaging, and releasing



v



the stocks; and (iii) the intervention system facilitates its stakeholders to act



proactively as market players.



The objectives of this research are to develop the policy options of cheap,



efficient, and fair buffer stocks distribution channel to the entire stakeholders in



the distribution system and to develop mathematical model as a tool to formulate



the market intervention policy by using buffer stocks scheme. This research



produced options of distribution channel policy and mathematical model of buffer



stocks scheme as a reference to set up market intervention program. The



intervention programs consist of direct market intervention (DMI) through market



operation and indirect market invervention (IMI) through warehouse receipt



system. There are three policies of distribution channel: monopoly, controlled, and



free market. The model consists of three models in DMI policy (Model I-a, I-b,



and I-c) and three models in IMI policy (Model II-a, II-b, and II-c). Model DMI



is a NLP problem that could be solved by using sequential linear programming



(SLP) algorithm. Model IMI is a MINLP problem with NP-hard category. The



solusion of IMI model is obtained by applying enumeration method and SLP



algorithm.



Compare to the previous models, the proposed model is valid for general



condition of staple food distribution system in terms of: (i) availability of



intervention policy, and distribution channels options; (ii) the model output could



be used to manage staple food scheme consists of planning, procuring, storaging,



and releasing the stocks; and (iii) the IMI facilitates its stakeholders to act



proactively as market players.



To evaluate the model performance, several numerical examples have been



performed by utilizing historical data. The numerical and analitycal analyses



shows that the model can be used to determine the stocks level, the limit of



producer’s selling price, the limit of consumer’s purchasing price, the amount of



import, and to solve the buffer stocks problem within planning period with



considering the interest of stakeholders. Based on Model DMI, government



intervention has significant effect to reduce the risks for both producer and



consumer side. The intervention policy can be utilized to improve the profit for



both the producer and the consumer. Therefore, the government budget rises when



the price function parameter rises as well. The Model IMI shows that the IMI does



not need a capital as high as DMI. The main contribution of this research are: (i)



to integrate the econometrics and optimization approaches in determining the



buffer stock scheme, (ii) to develop buffer stock model with considering the



market intervention policy, and (iii) to develop market intervention model through



a govermental-agent (BLUPP) who acts proactively as market player.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Pembimbing Prof. Dr. Ir. Senator Nur Bahagia, Editor: Alice Diniarti

File PDF...