Path: Top > S3-Dissertations > Fine Art and Design-FSRD > 2017

KARAKTER VISUAL BUSANA NASIONAL IBU NEGARA INDONESIA TAHUN 1945 - 2014

THE VISUAL CHARACTERS OF INDONESIAN FIRST LADIES’FASHION PERIODS 1945-2014

PhD Theses from JBPTITBPP / 2017-10-09 09:55:38
Oleh : SUCIATI (NIM : 37112004), S3 - Visual Art and Design-FSRD
Dibuat : 2017-10-04, dengan 1 file

Keyword : Busana Nasional, Ibu Negara Indonesia, Karakter visual, Kebaya

Ibu Negara memiliki peran penting terhadap pemakaian Busana Nasional, karena sosoknya dianggap sebagai representasi budaya, jatidiri, dan inspirasi perempuan Indonesia. Seiring dengan dinamika politik jabatan Presiden Negara Indonesia, sosok Ibu Negara pun mengalami perkembangan peran. Ibu Negara Indonesia berasal dari latar belakang budaya yang beragam, Nyonya Fatmawati Soekarno dari Bengkulu, Nyonya Tengku Halimah Syehabuddin Sjafruddin Prawiranegara dari Sumatera, Nyonya Roesiah Asaat dari Sungai Puar, Agam, Nyonya R.Ay. Siti Hartinah Soeharto dari Surakarta, Nyonya Hasri Ainun Besari dari Semarang, Nyonya Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dari Jombang, dan Nyonya Kristiani Herrawati Yudhoyono dari Yogyakarta. Semua Ibu Negara memakai Kebaya dalam berbagai acara formal sebagai representasi Busana Nasional. Hal yang menarik sampai saat ini belum di jumpai adanya penjelasan lengkap dan objektif mengenai perkembangan peran, fungsi dan detail desain Busana Nasional Indonesia khususnya yang dipakai oleh Ibu Negara. Dengan demikian, penelitian ini berusaha merumuskan visual Busana Nasional Indonesia dan memetakan busana resmi yang dikenakan Ibu Negara Indonesia. Untuk itu, penelitian ini menggunakan studi sejarah busana resmi Ibu Negara Indonesia dari tahun 1945 sampai 2014. Penelitian ini menggunakan analisis isi pada gambar Busana Nasional Ibu Negara. Data visual terdiri dari 10 gambar dari 52 gambar Busana Nasional Nyonya Fatmawati Soekarno, 10 gambar dari 204 gambar Busana Nasional Nyonya R.Ay Siti Hartinah Soeharto, 5 gambar dari 14 gambar Busana Nasional Nyonya Hasri Ainun Habibie, 5 gambar dari 5 gambar Busana Nasional Nyonya Sinta Nuriyah A. Wahid, dan 10 gambar dari 66 gambar Busana Nasional Nyonya Kristiani Herrawati Yudhoyono. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada kesamaan penggunaan Busana Nasional Ibu Negara Indonesia: sanggul, Kebaya (dengan berbagai detail dan corak-baik corak bunga, polos, atau hiasan), kain tradisional sebagai busana bagian bawah, milineri (selendang, tas genggam, kipas tangan dan selop), dan aksesoris (konde, kalung, gelang, anting, dan bros). Perbedaan penggunaan Busana Nasional dipengaruhi oleh citra budaya etnik Nusantara yang dipilih, perubahan mode dan tren, adopsi budaya, dan pemahaman Ibu Negara terhadap citra perempuan Indonesia. Busana Nasional Ibu Negara Indonesia membawa pesan politik yaitu menyatukan beragam bangsa dan budaya.

Deskripsi Alternatif :

First ladies play role on national dress as they represent the culture, personality, and inspiration of Indonesian women. Their roles evolve along with politics of Indonesian presidency. The first ladies of Indonesia come from diverse cultural background, Mrs Fatmawati Soekarno of Bengkulu, Mrs. Tengku Halimah Syehabuddin Sjafruddin Prawiranegara from Sumatera, Mrs. Roesiah Asaat from Sungai Puar, Agam, Mrs R.Ay. Siti Hartinah Soeharto of Surakarta, Mrs Hasri Ainun Besari of Semarang, Mrs Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid of Jombang, and Mrs Kristiani Herrawati Yudhoyono of Yogyakarta. All of them use Kebaya in various formal occasions as representation of national attire. Interestingly, there are no existing literatures and objective studies on the everchanging roles, function, and details of Indonesian National Dress wore by Indonesian first ladies. Accordingly, this research sought to formulate visuals of Indonesian’s national dress and map those formal dress wore by Indonesian first ladies. For this purpose, the research applied historical study on formal dress of Indonesian first ladies from 1945 until 2014. The study used content analisys on fully visible images of national dress wore by Indonesian first ladies. It consisted of 10 out of 52 images of Mrs Fatmawati Soekarno’s dress, 10 out of 204 of Mrs R.Ay. Siti Hartinah Soeharto’s dress, 5 out of 14 images of Mrs Hasri Ainun Habibies dress, 5 out of 5 images of Mrs Sinta Nuriyah A Wahid’s dress, and 10 out 66 images of Mrs Kristiani Herrawati Yudhoyono’s dress. Result show that there were similiarities of usage of Indonesian fisrt ladies’s dress: hair bun, top dress of kebaya (with various details and pattern of motifs—either floral, plain, or embroideries; V or I silhoutte of traditional sarong/long clothes), milineries (scrafs, handbags, fans and slippers), and accessories (hairpins, necklaces, bracelets, earrings, and brooches). Differences were influenced by the chosen images of Nusantara’s ethnic cultures, changes in fashion and trend, cultural adoption, and first ladies’ understandings on the image of Indonesian women public. The national dress of Indonesian first ladies carries political messades-uniting diverse nation and cultures.

Copyrights : Copyright (c) 2001 by Perpustakaan Digital ITB. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Tim Pembimbing :



    Dr. Agus Sachari, M.Sn.



    Dr. Kahfiati Kahdar, MA.



    Dr. Achmad Syarief, M.SD.
    , Editor: Alice Diniarti

File PDF...