Path: Top > S3-Dissertations > Chemistry-FMIPA > 2016

TURUNAN FENOLAT DARI KAEMPFERIA PANDURATA DAN SENYAWA ANALOG PINOSTROBIN (5-HIDROKSI-7-METOKSIFLAVANON) SERTA SIFAT ANTIBAKTERINYA

PHENOLIC DERIVATIVES OF KAEMPFERIA PANDURATA AND PINOSTROBIN (5-HYDROXY-7-METHOXY- FLAVANONE) ANALOG COMPOUNDS AND THEIR ANTIBACTERIAL PROPERTIES

PhD Theses from JBPTITBPP / 2017-09-27 15:45:16
Oleh : SOERYA DEWI MARLIYANA ( NIM : 30511013 ), S1 - Department of Chemistry
Dibuat : 2016-06-07, dengan 7 file

Keyword : TURUNAN FENOLAT, KAEMPFERIA PANDURATA, PINOSTROBIN, SIFAT ANTIBAKTERI

Kaempferia pandurata (syn. Boesenbergia rotunda, B. pandurata (Robx.) Schltr), atau lebih dikenal dengan nama local “Temu Kunci”, merupakan salah satu tanaman obat dari famili Zingiberaceae. Tanaman ini telah dimanfaatkan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit, yang meliputi gangguan kesehatan yang berkaitan dengan infeksi mikroba (diare, gangguan pencernaan, karies gigi, infeksi jamur), inflamasi (demam, rematik dan nyeri otot), asma, gatal, gangguan kolik, dan batuk kering. Kajian fitokimia terhadap rimpang K. pandurata memperlihatkan adanya kandungan senyawa turunan fenolat golongan flavonoid, yaitu flavanon dan calkon, yang merupakan komponen utama pada tanaman ini. Kajian bioaktivitas ekstrak rimpang spesies ini memperlihatkan berbagai aktivitas biologis seperti antibakteri, antiinflamasi, antitumor, antidiare, antidisentri, anti- HIV, antioksidan, antipiretik, analgesik dan insektisida. Diantara uji aktivitas biologi tersebut, uji antibakteri merupakan salah satu pengujian aktivitas penting dalam usaha menjawab timbulnya resistensi sejumlah bakteri terhadap obat-obat yang sudah ada serta munculnya sejumlah wabah penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Oleh karena itu perlu dilakukan pencarian senyawa jenis lain yang berpotensi sebagai antibakteri. Senyawa dengan aktivitas antibakteri dapat diperoleh melalui isolasi dari bahan alam atau transformasi lebih lanjut senyawa alam jenis baru untuk mendapatkan diversitas molekul yang tinggi. Dalam penelitian ini, kedua pendekatan telah digunakan untuk menemukan senyawa bioaktif baru dengan sifat antibakteri dari K. pandurata dan produk transformasi komponen utama. Isolasi senyawa turunan fenolat dari rimpang K. pandurata yang berasal dari daerah Surakarta, Jawa Tengah, dilakukan melalui tahap ekstraksi (maserasi), fraksinasi, dan pemurnian. Pemurnian senyawa hasil isolasi dilakukan dengan menggunakan berbagai teknik kromatografi. Empat senyawa berhasil diisolasi dan diidentifikasi berdasarkan data spektra NMR (1H dan 13CNMR, COSY, HSQC, HMBC, dan NOESY) yaitu pinostrobin (1), pinosembrin (2), panduratin A (3), dan 4-hidroksipanduratin A (4). Senyawa 1 merupakan komponen utama dari rimpang dan selanjutnya dilakukan transformasi. Transformasi kimia senyawa 1 yang meliputi reaksi prenilasi dan siklisasi menghasilkan sembilan senyawa turunan. Senyawa-senyawa tersebut adalah monooksiprenil pinostrobin (5), monooksiprenil calkon (6), diprenil calkon (7), triprenil calkon (8), triprenil sikloheksena calkon (9), monosiklikprenil calkon (10), monosiklikprenil pinostrobin (11), monoprenil calkon (12) dan monoprenil pinostrobin (13). Transformasi prenilasi terhadap pinostrobin (1) melalui mekanisme reaksi perisiklik dengan penataan ulang Claisen untuk senyawa 6,7 dan 8, sedangkan senyawa 9 selain melalui mekanisme penataan ulang Claisen juga mengalami reaksi dearomatisasi. Berdasarkan penelusuran literatur senyawa 6 -12 merupakan senyawa baru. Uji aktivitas antibakteri senyawa 1-13 telah dilakukan terhadap sembilan bakteri ATCC (Bacillus cereus ATCC 21772, Bacillus subtilis ATCC 6633, Staphylococcus aureus ATCC 29737, Listeria monocytogenes ATCC 1531, Proteous mirabilis ATCC 21100, Vibrio parahaemolyticus ATCC 17802, Samonella typhi ATCC 14028, Klebsiella pneumoniae ATCC 13733, Escherichia coli O157:H7) dan delapan bakteri isolat klinis (Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis, Escherichia coli, Samonella typhi, Shigella dysentriae, Enterobacter aerogenes, Pseudomonas aeruginosa, Vibrio cholerae). Hasil uji aktivitas antibakteri terhadap senyawa hasil isolasi menunjukkan panduratin A (3) dan 4- hidroksipanduratin A (4) mempunyai aktivitas yang tinggi terhadap hampir semua bakteri ATCC dengan nilai MIC 0,9-9,4 µg/mL. Kedua senyawa tersebut juga menunjukkan aktivitas yang kuat terhadap bakteri isolat klinis S. aureus dan B. subtilis dengan kisaran nilai MIC 2,4-18,8 µg/mL. Dari hasil ini, panduratin A (3) dan 4-hidroksipanduratin A (4) berpotensi sebagai senyawa antibakteri baru. Untuk senyawa dari produk transformasi, hanya monoprenil calkon (12) yang memiliki aktivitas yang signifikan terhadap S. aureus, P. mirabilis dan K. pneumonia, dengan nilai MIC di kisaran 7,8-62,5 ug/mL. Sedangkan senyawa lainnya, yaitu senyawa 5-11 dan 13, menunjukkan aktivitas lemah. Hasil ini mengindikasikan bahwa transformasi kimia dari pinostrobin (1) dan turunannya, seperti senyawa 12, dapat menjadi sumber alternatif untuk senyawa antibakteri baru. Berdasarkan nilai MIC disarankan bahwa perubahan substituen pada C-4 dari gugus metoksi pada panduratin A (3) menjadi gugus hidroksi pada 4-hidroksi panduratin A (4), tidak berpengaruh secara signifikan terhadap aktivitas antibakteri untuk bakteri ATCC. Namun keberadaan gugus metoksi pada panduratin A (3) dapat meningkatkan aktivitas antibakteri terhadap bakteri isolat klinis S. aureus dan B. subtilis dibandingkan dengan 4-hidroksipanduratin A (4). Selain itu, meningkatnya hidrofobisitas dari senyawa 12, dibandingkan dengan pinostrobin (1), bisa menjadi faktor yang signifikan dalam meningkatkan sifat antibakteri. Uji time-kill dari 4-hidroksipanduratin A (4) dilakukan terhadap empat bakteri ATCC (P. mirabilis, S. aureus, B. cereus dan B. subtilis). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bakteri S. aureus dan B. subtilis mati dalam waktu 2 jam dengan konsentrasi 1xMIC, bakteri B. cereus mati dalam waktu 4 jam dengan konsentrasi 1xMIC, sementara bakteri P. mirabilis mati dalam waktu 30 menit dengan konsentrasi 2xMIC. Hasil ini kemudian dapat digunakan untuk menentukan dosis 4-hidroksipanduratin A (4) untuk uji klinis lebih lanjut.

Deskripsi Alternatif :

Kaempferia pandurata (syn. Boesenbergia rotunda, B. pandurata (Roxb.) Schltr), locally known as "Temu Kunci"in Indonesia, is one of the medicinal plants of the family Zingiberaceae. This plant has been used to cure various diseases, including health problems related to microbial infection (diarrhea, indigestion, dental caries, fungal infections), inflammation (fever, arthritis and muscle pain), asthma, itching, colic disorder, and dry cough. Phytochemical studies on the rhizome of K. pandurata showed the presence of flavonoid derivatives, namely flavanones and chalcones, which constitute as the main components of this plant. Bioactivity studies on this species exhibited various biological activities, such as antibacteria, anti-inflammatory, antitumor, anti-diarrhea, antidisentri, anti-HIV, antioxidant, antipyretic, analgesic and insecticides. Among the biological activities, the antibacterial activity results are important as an attempt to answer the emergence of resistance of some bacteria against existing drugs, as well as the emergence of a number of outbreaks of disease caused by bacteria. Therefore, a search to find new compounds that are potential as an antibacterial is an urgent matter. Compounds with antibacterial activities can be obtained by an isolation from natural resources or from a transformation of natural compounds to obtain a new type of high molecular diversity. In this study, both approaches have been used to find new bioactive compounds with antibacterial properties from K. pandurata and a transformation products of its major component. Isolation of the phenolic compounds of the K. pandurata rhizome, collected from Surakarta, Central Java, was carried out through extraction (maceration), fractionation, and purification. Fractionation and purification were done using various chromatographic techniques. Four compound were isolated and were identified based on NMR spectral data (1H and 13CNMR, COSY, HSQC, HMBC, and NOESY) as pinostrobin (1), pinocembrin (2), panduratin A (3), and 4- hidroxypanduratin A (4). Compound 1 was a major component of the rhizome and was further chemically transformed. Chemical transformation of compound 1 included prenylation and cyclization reactions to give nine transformation compounds. These compounds included monooxyprenyl pinostrobin (5), monooxyprenyl chalcone (6), diprenyl chalcone (7), tryprenyl chalcone (8), tryprenyl cyclohexene chalcone (9), monosyclicprenyl chalcone (10), monosyclicprenyl pinostrobin (11), monoprenyl chalcone (12), and monoprenyl pinostrobin (13). The formation of compounds 6, 7 and 8 were thought to proceed via prenylation of pinostrobin (1) followed by a perycyclic reaction and Claisen rearrangement, whereas compound 9 was formed through similar Claisen rearrangement but with a dearomatization reaction. A literature search showed that compounds 6-12 are new compounds. Antibacterial activities of compounds 1-13 were performed against nine ATCC bacteria (Bacillus cereus ATCC 21772, Bacillus subtilis ATCC 6633, Staphylococcus aureus ATCC 29737, Listeria monocytogenes ATCC 1531, Proteous mirabilis ATCC 21100, Vibrio parahaemolyticus ATCC 17802, Samonella typhi ATCC 14028 , Klebsiella pneumoniae ATCC 13733, Escherichia coli O157: H7), and eight bacteria of clinical isolates (Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis, Escherichia coli, Salmonella typhi, Shigella dysenteriae, Enterobacter aerogenes, Pseudomonas aeruginosa, Vibrio cholerae). For the natural compounds, the results showed that panduratin A (3) and 4- hydroxypanduratin A (4) exhibited high activities against almost all ATCC bacteria, with MIC values in the range of 0.9 to 9.4 µg/mL. The two compounds also showed strong activities against S. aureus and B. subtilis of clinical isolates, with MIC values were 2.4 to 18.8 µg/mL. From these results, panduratin A (3) and 4-hydroxypanduratin A (4) are potential as a new antibacterial compounds. For the compounds of transformation products, only the monoprenyl chalcone 12 that has significant activities against S. aureus, P. mirabilis and K. pneumonia, with MIC values in the range of 7.8 to 62.5 µg/mL. The other compounds, namely compounds 5-11 and 13, showed only weak activities. These results indicated that chemical transformation of pinostrobin (1) to its derivatives, such as compound 12, can be an alternative source for new antibacterial compounds. Based on these MIC values it is suggested that a changing substituent at C-4 from a methoxyl group in panduratin A (3) to the hydroxy group in 4- hydroxypanduratin A (4) does not alter significantly their antibaterial activities against ATCC bacteria. However, the presence of the methoxyl group in panduratin A (3) can increase its antibacterial activities against bacteria of clinical isolates of S. aureus and B. subtilis as compared with 4-hydroxypanduratin A (4). In addition, increasing hydrophobicity in compound 12, as compared with pinostrobin (1), could be a significant factor in enhancing its antibaterial properties. Time-kill test was performed to 4-hydroxypanduratin A (4) against four ATCC bacteria (P. mirabilis, S. aureus, B. cereus and B. subtilis). The results indicated that S. aureus and B. subtilis were completely killed within 2 hours at 1xMIC, 4 hours against B. cereus at 1xMIC, while P. mirabilis was killed within 30 minutes. at 2xMIC. These results can be used to determine the dose of 4- hydroxypanduratin A (4) for further clinical tests.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Pembimbing 1 : Prof. Dr. Yana Maolana Syah



    Pembimbing 2 : Dr.rer.nat. Didin Mujahidin, Editor: Latifa Noor

File PDF...