Path: Top S1-Final Project Chemical Engineering 2007

PRODUKSI PROTEIN SEL TUNGGAL DARI AMPAS TAPIOKA UNTUK PAKAN TERNAK MELALUI FERMENTASI MEDIA PADAT DENGAN JAMUR RHIZOPUS OLIGOSPORUS

Undergraduate Theses from JBPTITBPP / 2009-01-16 14:00:28
Oleh : SHELVIA ANDI (NIM 13003096), Central Library Institute Technology Bandung
Dibuat : 2007, dengan 7 file

Keyword : Ampas tapioka, Rhizopus oligosporus, Protein sel tunggal

Ampas tapioka adalah salah satu hasil samping industri tapioka yang sering dimanfaatkan sebagai pakan ternak yang memiliki kandungan protein rendah. Penelitian produksi protein sel tunggal pada ampas tapioka bertujuan untuk memperkaya kandungan protein sebagai sumber pakan ternak, karena pakan ternak kaya protein seperti tepung ikan, soybean meal atau corn meal memiliki harga yang mahal. Penelitian dilakukan dengan mencari kondisi optimum produksi melalui pengamatan secara visual pertumbuhan jamur selama lima hari pada labu Erlenmeyer 250 mL dengan variabel kadar air, pH dan kadar dedak padi yang dilanjutkan dengan usaha penanaman di nampan dengan kondisi yang diperoleh. Dari hasil penelitian, kondisi produksi yang dipilih adalah pada kadar air 64,18%, pH 4 dan kadar pemberian dedak padi 2%. Kadar protein meningkat dari 1,5%-kering menjadi 20,95%-kering. Pada usaha scaling-up, jamur mulai tumbuh pada hari kelima. Dua hambatan utama dalam usaha scaling-up adalah lambatnya pertumbuhan jamur dan evaporasi kandungan air substrat yang lebih cepat pada luas permukaan yang lebih besar.

Deskripsi Alternatif :

Cassava bagasse is one of tapioca industry's byroducts which often utilized as low protein livestock feed. Single cell production in cassava bagasse research aimed to enrich protein content in cassava bagasse, mainly because rich protein livestock feeds such as fish flour, soybean meal, or corn meal are expensive. The research determined production optimum conditions by visually observing fungi growth in Erlenmeyer 250 mL for five days, with moisture content, pH or rice bran content as variables observed,continued with fermenting fungi in simple tray fermentors using previous data. The optimum production conditions were 64,18%-weight moisture content, pH 4 and 2%-weight rice bran content. Protein content increased from 1,5%-dry weight to 29,95%-dry weight. In scaling-up effort, fungi started to grow at the fifth day. Two main difficulties met in scaling-up effort were the fungi growth slowness and the fast evaporation of moisture content because of bigger surface area.

Copyrights : Copyright Â(c) 2001 by ITB Central Library. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Beri Komentar ?#(1) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiCentral Library Institute Technology Bandung
Nama KontakDrs. Mahmudin, SIP.
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOdigilib@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Pembimbing : Dr. Zainal Abidin dan Drs. Achmad Ali Syamsuriputra, Editor: Rizki Apriyanti

Review...