Path: TopS2-ThesesGeological Engineering-FITB2016

REKONSTRUKSI PERUBAHAN IKLIM PADA KALAHOLOSEN BERDASARKAN FOSIL PALINOMORF DI LEPAS PANTAI TARAKAN, KALIMANTAN UTARA

Master Theses from JBPTITBPP / 2017-09-27 14:38:38
Oleh : SEPTRIONO HARI NUGROHO ( NIM: 22013308 ) ; Tim pembimbing : Dr. Ir. Dardji Noeradi ; Dr. Ir. A. Tjipto Rahardjo ; Dr. Eko Yulianto, MT, S2 - Geology
Dibuat : 2016, dengan 7 file

Keyword : Sub-Cekungan Tarakan, palinomorf, sedimentasi, pengangkutan, palinofasies, perubahan, iklim, arus,Arlindo.

Studi palinomorf merupakan studi mikrofosil yang berasal dari tumbuhan dan hewan berdinding organik dan karbonatan. Berdasarkan penelitian, palinomorf yang diendapkan pada sedimen laut merupakan hasil transportasi dari habitatnya menuju tempat pengendapannya, dan masih mampu merefleksikan variasi vegetasi, perubahan iklim dan fluktuasi muka air laut. Lokasi penelitian berada di Lepas Pantai Tarakan, Kalimantan Utara yang termasuk dalam Sub-Cekungan Tarakan. Lokasi tersebut mendapat pengaruh dari Arus Lintas Indonesia (Arlindo) baik secara langsung maupun tidak langsung. Data diperoleh dari hasil pengintian gravitasiendapan Kuarter. Analisis palinologi sebanyak 144 sampel dilakukan di Laboratorium Palinologi, Teknik Geologi, FITB-ITB.Dari hasil analisis palinologi diperoleh zonasi palinologi, palinofasies, sedangkan analisis sedimen akan menghasilkan fasies sedimen.

Berdasarkan analisis palinologi, terdapat 108 taksa teridentifikasi yang terdiri dari dinoflagelata, foraminifera, polen dan spora.Taksa polen dikelompokkan menjadi tumbuhan hutan mangrove, tumbuhan dataran rendah, tumbuhan pegunungan dan rerumputan.Proporsi kehadiran taksa yang ditemukan bersifat fluktuatif, sehingga kehadirannya dapat bersifat nyata ataupun semu. Berdasarkan analisis kuantitatif menggunakan analisis PCA diketahui hanya taksa Araceae, Annonaceae, Palmae spp, Pandanus sp, Piperaceae, Sapindaceae, Urticaceae, Cupressus sp,Malphigiceae, Cyperaceae, Gramineae, Dianthus chinensis, Gleicheniaceae,Nephelea cuspidate, dan Polypodiaceae yang hadir secara nyata. Fluktuasi kehadiran palinomorf terjadi karena proses pengangkutan dan pengendapan. Proses tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu arus, jarak, ukuran sedimen dan antropogenik. Arus laut mengangkut palinomorf tersebut dari sumber nya hingga mengendap pada sub-cekungan Tarakan.Sistem transportasinya diduga melalui kanal-kanal bawah laut yang masih aktif.Kehadiran palinomorf di wilayah sedimentasi laut dalam lebih banyak dan bervariasi dibandingkan pada daerah paparan dan lereng, hal ini diduga karena adanya pengaruh arus. Sub-Cekungan Tarakan terdiri dari fasies sedimen pasir, lanau dan lempung.Distribusi sedimen dasar laut menunjukkan perubahan sedimen yang semakin halus ke arah wilayah pengendapan laut dalam.Data inti bormenggambarkan adanyaperubahan fasies mengkasar keatas. Perubahan ini mengindikasikan peningkatan dalam kekuatan arus transportasi saat pengendapan berlangsung.Palinofasies yang terbentuk berdasarkan asosiasi palinomorf dan sedimen terbagi dalam fasies A, B, C, dan D. Palinofasies tersebut dapat menggambarkan perubahan iklim dan palinostratigrafi pada Kala Holosen yang berlangsung sejak ±9833 th BP hingga saat ini. Perubahan lingkungan menggambarkan perubahan iklim dan fluktuasi muka air laut secara tidak.Iklim kering dengan penurunan suhu maksimal menyebabkan pergeseran garis pantai ke arah laut pada interval ±7083 hingga±8333th BP, dan iklim basah dengan kenaikan suhu maksimal pada periode ±5917sampai ±7083 th BP dan ±1750 hingga ±2750 th BP yang menyebabkan pergeseran garis pantai ke arah daratan.

Deskripsi Alternatif :

Organic-walled and carbonaceous. Based on the research, palynomorph transported from the origin (habitats) and deposited in marine sediment. The palynomorph can be reflected variations in vegetation, climate changes and sea level fluctuations. The research location was in Tarakan offshore, North Kalimantan which included in the Tarakan Sub-Basin. The location influenced by Indonesian Throughflow (ITF) either directly or indirectly. The data obtained from gravity coring quaternary sediment. Palynology analysis of 144 samples carried out in the Laboratory of Palynology, Geological Engineering, FITB-ITB. The analysis results obtained zoning of palynology, palynofacies. Meanwhile, the sediment analysis produced sediments facies.

Based on the palynology analysis, there are 108 taxa identified which consist of dinoflagellates, foraminifera, pollen and spores. Pollen taxa grouped into mangrove forest, lowland, mountain herbs and grassland. The proportion of taxa identified was fluctuation, so the presence can be real or pseudo. Based on quantitative analysis using principle component analysis (PCA), taxa Araceae, Annonaceae, Palmae spp, Pandanus sp, Piperaceae, Sapindaceae, Urticaceae, Cupressus sp, Malphigiceae, Cyperaceae, Gramineae, Dianthus chinensis, Gleicheniaceae, Nephelea cuspidate and Polypodiaceae attended significantly. Fluctuations in the palynomorph presence occur due to transportation and deposition processes. The process influenced by several factors such us currents, distances, grain size and anthropogenic. The currents transported palynomorph out from the origin to settle at Tarakan Sub-Basin. The transport system suspected by underwater canals that were still active. Palynomorph presence in deep sea environment more numerous and varied than in shelf and slope, it suspected because of the current influences. Sediment facies Tarakan Sub-Basin consist of sand, silt and clay. Distribution of seabed sediments showed changes increasingly fine sediment towards the deepsea deposition environment. Gravity coring data showed facies changes were coarsening upward. These changes indicated an increase in the strength of ivcurrents transportation when sedimentation took place. Palynofacies formed by palynomorph association and sediment are divided into facies A, B, C and D. Palynofacies described climate changes and also palynostratigraphy at Holocene that took place since ± 9833 years BP until now. The climate changes indirectly which described the environmental changes and sea level fluctuations. Dry climate with maximum temperature drop caused a shoreline shift to basinward at ±7083 to ±8333 year BP, and wet climate with maximum temperature rise caused a shoreline shift to landward at ±5917 to ±7083 year BP and ±1750 to ±2750 year BP.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Tim pembimbing : Dr. Ir. Dardji Noeradi ; Dr. Ir. A. Tjipto Rahardjo ; Dr. Eko Yulianto, MT, Editor: Alice Diniarti

File PDF...