Path: TopMemberIrwan@unix.lib.itb.ac.id

Pengajaran Fisika di Indonesia Membunuh Kreativitas Murid

Kompas (1 Mei 2000)
Clipping from JBPTITBPP / 2007-03-15 08:27:12
Oleh : (sal), Kompas
Dibuat : 2007-03-15, dengan 1 file

Keyword :
Fisika, Kreativitas Murid, Guru Besar Fisika ITB

Url : http://www.kompas.com
Sumber pengambilan dokumen : http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?artikel&1063086367


ABSTRAK:

Guru Besar Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Dr Tjia May On mengatakan, pengajaran fisika di sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) maupun sekolah menengah umum (SMU) yang hanya menekankan satu proses pemahaman fenomena alam saja-yakni proses deduktifsebagian memang berhasil membuat anak menjadi kritis analitis, tetapi efek sampingnya membunuh kreativitas anak dalam menyisir fakta-fakta dari fenomena rumit untuk menghasilkan konsep hipotesis atau model teori yang sederhana. Ahli fisika partikel dan fisika material itu mengungkapkan hal ini pada hari pertama Konferensi Guru Fisika Indonesia yang berlangsung Sabtu, 29 April lalu di Sekolah Pelita Harapan Karawaci, diikuti 500-an guru fisika SLTP dan SMU berbagai kota di Pulau Jawa dan luar Jawa. Penyelenggaraan konferensi itu sendiri berbarengan dengan Olimpiade Fisika Asia Pertama di Karawaci, Jawa Barat. "Mengapa negara kita semrawut? Jawabannya karena orang hukum hanya bicara bukti, bukan fakta," kata Tjia saat menjelaskan betapa pencarian, pengungkapan, dan pemahaman fakta masih amat kurang dalam pendidikan secara umum di Indonesia. Dalam ceramah yang disampaikan dengan refleksi mendalam dan artikulasi fisika-filosofis yang kuat itu, Tjia menjelaskan betapa perkembangan ilmu pengetahuan umumnya dan fisika khususnya telah berlangsung melalui rute empirik. Pada masa Aristoteles, Plato, dan Socrates, menurut Tjia, kekuatan logika dan penalaran deduktif merupakan bekal dan proses yang dapat "menemukan" kebenaran. Pada paradigma baru yang dirintis oleh Francis Bacon, kemudian diperkuat oleh Galileo dan Newton, proses mencari kebenaran bersifat induktif dengan verifikasi kebenaran yang berdasarkan fakta teramati atau terukur-telah membuka cakrawala baru karena mereka menganut epistemologi sebagai "jalan raya" menuju kebenaran ilmiah. "Ini berarti fisika adalah ilmu pengetahuan yang dibangun atas dasar fakta, memerlukan verifikasi, dan memiliki keterbatasan validitas," katanya. Pengajaran fisika di sekolah-sekolah menengah Indonesia, menurut pengamatan Tjia, ditekankan kepada proses deduktif dari model teo kepada ramalan-ramalan teoretik. Anak diajarkan terlatih menurunkan rumus, sebaliknya tidak diberi ruang untuk melatih melakukan generalisasi, abstraksi, atau idealisasi dari fakta atau fenomena alam untuk merumuskan suatu model teori. "Padahal, dalam melakukan generalisasi inilah tumbuh kreativitas anak dalam melihat fenomena alam," katanya.......

Copyrights : Copyright (c) 2007 by ITB Central Library. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiK
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • , Editor: Irwan Sofiyan

Download...