Path: TopS3-DissertationsMathematics and Natural Science1990

PENGARUH PEMBERIAN TELUR ASCARIS SUUM YANG DIRADIASI TERHADAP POPULASI LARVA PADA REINFEKSI

PhD Theses from JBPTITBPP / 2007-12-18 16:10:22
Oleh : Widjojo Parjatmo, S3 - Mathematics and Natural Sciences
Dibuat : 1990-08-04, dengan 1 file

Keyword : parasite, larva, vaccine, ascaris suum, nematoda

Suatu sifat dari parasit yang menginfeksi hospesnya antara lain dapat timbulnya kekebalan pada hospes tadi terhadap infeksi serupa. Telah diketahui pula bahwa Nematoda pada stadium larva infektif yang diradiasi mengion menjadi berkurang kemampuannya untuk menginfeksi, atau terhambat pertumbuhannya untuk mencapai dewasa. Namun radiasi tadi tidak menghilangkan sifat parasit untuk menimbulkan reaksi-reaksi pada hospesnya yang mengakibatkan imunitas terhadapnya. Bertolak dari kenyataan tersebut dirumuskan suatu praduga, bahwa mungkin dapat dikembangkan suatu metoda pembuatan vaksin di dalam rangka pemberantasan parasit, yang didasarkan pada iradiasi parasit tersebut pada stadium pertumbuhannya yang paling tenat untuk keperluan tersebut. Berdasarkan kajian literatur telah diketahui bahwa untuk beberapa Nematoda yang parasitik pada ternak, yaitu DictyocauZus viviparus, Dictyocaulus filaria, clan Haemonchus contortus, dapat dibuat vaksin yang diradiasi. Dengan memanfaatkan informasi-informasi yang ditarik dari literatur mengenai biologi Ascaris suum, yang lazim merupakan parasit alamiah pada babi, penulis telah melakukan penelitian-penelitian tentang kemungkinan pembuatan vaksin terhadap cacing parasit tersebut. Pada penelitian tingkat pertama telah dipergunakan mencit sebagai hospes percobaan, untuk meyakinkan tentang kebenaran asumsi tersebut di atas. Setelah ada hasil-hasil yang positif meyakinkan pada eksperimen-eksperimen dengan mencit, maka penelitian dilanjutkan dengan mempergunakan babi sebagai hewan percobanan untuk meneliti, apakah kenyataan yang diamati pada mencit tadi, juga berlaku bagi hospes alamiahnya. Telah dikembangkan metoda penyediaan telur A. suum hingga mencapai stadium infektif dengan cara yang sederhana. Pengujian infektivitas telur A. suum pada mencit sebagai hospes percobaan dilakukan dengan metoda penghitungan larva yang tumbuh sampai di paru-paru. Pada hari ke-8 setelah mencit diinfeksi, paru-parunya dicernakan dengan larutan pepsin untuk melepaskan larva dari jaringan, sehingga dapat dihitung. Penentuan infektivitas pada mencit dapat dilakukan dengan cukup teliti, dan dapat digunakan untuk mengetahui pengaruh radiasi gama pada berbagai dosis terhadap infektivitas telur A. suum. Dari percobaan tadi dapat diketahui bahwa radiasi 100 krad dapat menghilangkan infektivitas telur A. suum pada mencit, karena tidak ada lagi larva yang tumbuh sampai di paru-paru pada 8 hari setelah infeksi. Metoda penentuan infektivitas dengan penghitungan larva dapat pula digunakan untuk mengevaluasi efektivitas dari vaksin yang dikembangkan. Mencit yang divaksinasi dengan telur yang diradiasi, diberi infeksi tantangan 4 minggu kemudian. Dari penghitungan larva dapat diketahui bahwa vaksinasi ini dapat memberikan imunitas yang cukup efektif. Untuk memberikan gambaran kemungkinan aplikasinya pada hospes alamiah, dilakukan pula percobaan dengan babi. Metoda pengujian infektivitasnya dilakukan dengan cara menghitung cacing yang keluar bersama tinja setelah babi diobati. Anak babi yang berumur 4 minggu yang divaksinasi dengan telur yang diradiasi juga menunjukkan adanya imunitas pada infeksi tantangan yang diberikan 4 minggu kemudian. Dari hasil percobaan yang telah dilakukan dari tahun 1978 hingga 1983, dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Sifat biologi A. suum memberikan kemungkinan untuk pengembangan vaksin yang dibuat dengan meradiasi gama stadium infektifnya.

2. Metoda penentuan infektivitas telur A. suum dengan penghitungan larva di paru-paru adalah cukup akurat untuk mencit sebagai hospes percobaan.

3. Pengaruh radiasi gama terhadap migrasi larva A. suum adalah mengurangi jumlah larva yang bermigrasi dalam tubuh hospesnya. Meskipun masih cukup banyak larva yang tumbuh di hati, pengaruh yang menyolok adalah menghambat larva untuk bermigrasi ke paru-paru.

4. Dosis radiasi gama 100 krad memeberikan atenuasi yang terbaik pada percobaan dengan mencit. Dosis ini dapat menghilangkan infektivitas telur A. suum terhadap mencit, namun masih dapat menimbulkan imunitas yang efektif.

5. Stimulasi dengan dosis 1 000 telur yang diradiasi gamadapat memberikan imunitas yang cukup efektif pada mencit.

6. Stimulasi dengan dosis yang lebih tinggi dari 1000 telur dan vaksinasi berulang memberikan hasil yang tidak berbeda banyak bila dibandingkan dengan vaksinasi tunggal.

7. Stimulasi babi terhadap infeksi A. suum dengan vaksin berupa stadium infektif yang dilemahkan dengan radiasi gama dapat dilakukan dan akan menguntungkan peternak babi.

8. Untuk pembuatan vaksin yang lebih aman bagi babi, mungkin diperlukan dosis radiasi gama yang lebih tinggi dari 100 krad terhadap telur A. suum.

Deskripsi Alternatif :

Suatu sifat dari parasit yang menginfeksi hospesnya antara lain dapat timbulnya kekebalan pada hospes tadi terhadap infeksi serupa. Telah diketahui pula bahwa Nematoda pada stadium larva infektif yang diradiasi mengion menjadi berkurang kemampuannya untuk menginfeksi, atau terhambat pertumbuhannya untuk mencapai dewasa. Namun radiasi tadi tidak menghilangkan sifat parasit untuk menimbulkan reaksi-reaksi pada hospesnya yang mengakibatkan imunitas terhadapnya. Bertolak dari kenyataan tersebut dirumuskan suatu praduga, bahwa mungkin dapat dikembangkan suatu metoda pembuatan vaksin di dalam rangka pemberantasan parasit, yang didasarkan pada iradiasi parasit tersebut pada stadium pertumbuhannya yang paling tenat untuk keperluan tersebut. Berdasarkan kajian literatur telah diketahui bahwa untuk beberapa Nematoda yang parasitik pada ternak, yaitu DictyocauZus viviparus, Dictyocaulus filaria, clan Haemonchus contortus, dapat dibuat vaksin yang diradiasi. Dengan memanfaatkan informasi-informasi yang ditarik dari literatur mengenai biologi Ascaris suum, yang lazim merupakan parasit alamiah pada babi, penulis telah melakukan penelitian-penelitian tentang kemungkinan pembuatan vaksin terhadap cacing parasit tersebut. Pada penelitian tingkat pertama telah dipergunakan mencit sebagai hospes percobaan, untuk meyakinkan tentang kebenaran asumsi tersebut di atas. Setelah ada hasil-hasil yang positif meyakinkan pada eksperimen-eksperimen dengan mencit, maka penelitian dilanjutkan dengan mempergunakan babi sebagai hewan percobanan untuk meneliti, apakah kenyataan yang diamati pada mencit tadi, juga berlaku bagi hospes alamiahnya. Telah dikembangkan metoda penyediaan telur A. suum hingga mencapai stadium infektif dengan cara yang sederhana. Pengujian infektivitas telur A. suum pada mencit sebagai hospes percobaan dilakukan dengan metoda penghitungan larva yang tumbuh sampai di paru-paru. Pada hari ke-8 setelah mencit diinfeksi, paru-parunya dicernakan dengan larutan pepsin untuk melepaskan larva dari jaringan, sehingga dapat dihitung. Penentuan infektivitas pada mencit dapat dilakukan dengan cukup teliti, dan dapat digunakan untuk mengetahui pengaruh radiasi gama pada berbagai dosis terhadap infektivitas telur A. suum. Dari percobaan tadi dapat diketahui bahwa radiasi 100 krad dapat menghilangkan infektivitas telur A. suum pada mencit, karena tidak ada lagi larva yang tumbuh sampai di paru-paru pada 8 hari setelah infeksi. Metoda penentuan infektivitas dengan penghitungan larva dapat pula digunakan untuk mengevaluasi efektivitas dari vaksin yang dikembangkan. Mencit yang divaksinasi dengan telur yang diradiasi, diberi infeksi tantangan 4 minggu kemudian. Dari penghitungan larva dapat diketahui bahwa vaksinasi ini dapat memberikan imunitas yang cukup efektif. Untuk memberikan gambaran kemungkinan aplikasinya pada hospes alamiah, dilakukan pula percobaan dengan babi. Metoda pengujian infektivitasnya dilakukan dengan cara menghitung cacing yang keluar bersama tinja setelah babi diobati. Anak babi yang berumur 4 minggu yang divaksinasi dengan telur yang diradiasi juga menunjukkan adanya imunitas pada infeksi tantangan yang diberikan 4 minggu kemudian. Dari hasil percobaan yang telah dilakukan dari tahun 1978 hingga 1983, dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Sifat biologi A. suum memberikan kemungkinan untuk pengembangan vaksin yang dibuat dengan meradiasi gama stadium infektifnya.

2. Metoda penentuan infektivitas telur A. suum dengan penghitungan larva di paru-paru adalah cukup akurat untuk mencit sebagai hospes percobaan.

3. Pengaruh radiasi gama terhadap migrasi larva A. suum adalah mengurangi jumlah larva yang bermigrasi dalam tubuh hospesnya. Meskipun masih cukup banyak larva yang tumbuh di hati, pengaruh yang menyolok adalah menghambat larva untuk bermigrasi ke paru-paru.

4. Dosis radiasi gama 100 krad memeberikan atenuasi yang terbaik pada percobaan dengan mencit. Dosis ini dapat menghilangkan infektivitas telur A. suum terhadap mencit, namun masih dapat menimbulkan imunitas yang efektif.

5. Stimulasi dengan dosis 1 000 telur yang diradiasi gamadapat memberikan imunitas yang cukup efektif pada mencit.

6. Stimulasi dengan dosis yang lebih tinggi dari 1000 telur dan vaksinasi berulang memberikan hasil yang tidak berbeda banyak bila dibandingkan dengan vaksinasi tunggal.

7. Stimulasi babi terhadap infeksi A. suum dengan vaksin berupa stadium infektif yang dilemahkan dengan radiasi gama dapat dilakukan dan akan menguntungkan peternak babi.

8. Untuk pembuatan vaksin yang lebih aman bagi babi, mungkin diperlukan dosis radiasi gama yang lebih tinggi dari 100 krad terhadap telur A. suum.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTITBPP
OrganisasiS
Nama KontakUPT Perpustakaan ITB
AlamatJl. Ganesha 10
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon62-22-2509118, 2500089
Fax62-22-2500089
E-mail Administratordigilib@lib.itb.ac.id
E-mail CKOinfo@lib.itb.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Promotor: D.A. Tisna Amidjaja; Ko-Promotor: Sri Oemijati; Scan: Cecep Hikmat, Editor:

Download...